Saturday, December 31, 2016

PERAYAAN KEMATIAN



Aku curiga pada diriku sendiri. Setiap perayaan malam tahun baru, aku merasa ngeri melihat kegembiraan manusia yang berpesta pora merayakan kematiannya sendiri.

Setiap detik
Setiap menit
Setiap jam
Setiap hari
Setiap minggu
Setiap bulan
Setiap tahun
Sang waktu dengan pisau mengkilat mengiris usia seiris demi seiris. Memasukkannya ke dalam kantong kematian, lalu diberi label nama.

Malam ini tepat Pk. 00 sang waktu mengambil lagi seiris nyawa, kembali memasukkanya ke dalam kantong kematian, membuangnya ke sungai maut. Prosesi itu diringi illustrasi Kembang api , suara petasan, suara terompet, sorak sorai, aroma kambing guling. Lengkap sudah kengerianku.

Tapi malam ini aku berusaha mengumpulkan sisa sisa keberanianku yang berserakan di sekumpulan nasehat teman temanku. Aku harus mencoba berdiri di tengah keramaian pesta pergantian tahun ini. Kalau tidak mencoba, dari mana kamu tahu kalau kamu punya keberanian ? Begitu nasehat temanku.Ya,tidak ada salahnya mencoba. Ayo !

Aaah..tidak semudah itu. Di tengah keramaian ini aku seperti terlempar ke dunia demit. Mulut-mulut menyeringai, di kepala meraka ada tanduk besar. Cahaya warna warni di langit seperti meteor dari kerak neraka.Terompet kematian memekakkan telinga.

Tidak !
Aku harus pulang !
Terengah-engah aku sampai di ujung gang rumahku. Seseorang menyapa,” Dari mana,Bal ? “ aku yakin dia tidak bertanya, sekedar basa-basi. “nggak, jalan jalan aja,” jawabku basi basi pula.

Jawabanku seperti menampar mukaku. Jadi aku sedang berjalan ? Sudah berapa langkah aku berjalan ? taruh lah seratus langkah. Pada hari-hari kemarin ? Kemarinnya lagi ? Aku tidak pernah menghitung langkahku. Aku merasa kasihan dengan kedua kakiku, entah sudah berapa langkah, tanpa kenal lelah dia membawaku kemana saja aku mau.

Aku kembali ke kamarku. Aku buka gordyn. Dari balik kaca jendela, nampak langit pekat, sekali sekali dihiasi sinar warna warni dari kembang api. Aku harus mencobanya dari sini. Melihat pesta kembang api dari kejauhan, dari tempat yang paling nyaman. Kamarku.

Aku buka mata perlahan. Eh, sudah berapa lama aku tertidur di bangku dekat jendela kamarku ?Hari sudah pagi.Tetes air hujan mengalir di kaca jendela kamar. Berembun. Seperti metafora film nasional yg selalu kehabisan akal menciptakan metafora baru.

Apa bedanya hujan hari ini dengan hari kemarin ? Kalau hari ini cerah ,apa bedanya matahari sekarang dengan matahari kemarin? Kenapa manusia manusia itu semalam begitu tegang sambil menghitung mundur seperti menunggu bom waktu? Seperti hari esok air hujan akan berubah warna ? Seperti matahari akan berubah arah ?

Dari balik jendela berembun, agak samar aku melihat anak-anak bermain di tengah hujan. Setiap hujan juga selalu begitu. Kalau hari cerah, ada wanita yang menjemur pakaian di sana. Selalu begitu.

Manusia manusia yang lelah seusai pesta, pasti juga tidak merasakan apa apa. Mereka cuma mendramatisir waktu, agar ekonomi tetap berputar pada setiap pergantian tahun.

Mereka juga mungkin tidak tahu, seiris umur mereka sudah hanyut di kali maut. Kalau mereka tahu, tidak perlu ucapan klise penuh basa basi,”semoga tahun ini lebih baik dari tahun kemarin.”

Kalau mereka tahu bahwa mereka harus berpacu dengan waktu, mungkin mereka akan berusaha lebih baik setiap hari setiap jam setiap detik.Tidak harus menunggu sampai ujung tahun. Kalau mereka tahu.

1 Januari 2012.
Balya Nur

Monday, December 26, 2016

Kritik Jendral Besar Abdul Haris Nasution Pada Demokrasi Liberal


Negara tidak lagi pouvoir neuter karena diluar terjadi perebutan pengaruh dan kekuasaan untuk menguasai negara. Kedaulatan dan kekuasaan terpecah di luar pemerintahan, yang sering disebut dengan istilah pressure groups. Keadaan demikian dapat membawa keliberalan di segala bidang kehidupan yg akhirnya akan menjurus ke arah anarchisme.

Perangkat demokrasi liberal yg di Eropa Barat sendiri telah mengalami kemerosotan dibawa oleh orang Barat ke Indonesia , dipompakan kepada kita melalui saluran edukasi kultur, dan dari kenyataan kenyataan ini ternyata tidak berjalan baik di Indonesia ( pengalaman demokrasi liberal berdasarkan UUDS 50 dari 1950 sd 1959, edit penulis), karena bertentangan dan tidak cocok dengan watak dan kepribadian Indonesia.

Kita telah mengalami perangkat demokrasi liberal itu dalam ketatanegaraan kita, kita telah merasakan akibat akibat yg ditimbulkan olehnya.

Demokrasi liberal di Indonesia telah menghasilkan pertentangan pertentangan politik, politikeke delinquneten, pembrontakan pembrontakan, kerusakan kerusakan kultur dan moral nasional, partai partai hanya menjadi pressure groups semata, sehingga kita sebagai bangsa kehilangan corak dan kepribadian sendiri, sebagai bangsa kita telah dipotong potong dan dipisah pisahkan oleh berbagai isme, yg masing masing berjalan atas asas dan tujuan masing masing. Akibatnya kepentingan bangsa dan kepentingan nasional, tertekan kebawah oleh kepentingan golongan.

Demokrasi liberal menimbulkan perselisihan perselisihan kelas, yang bagi bangsa Indonesia adalah hal baru.

Baru, karena dari dulu memang tidak diketahui oleh bangsa Indonesia karena memang tidak perlu ada. Yang ada hanya satu kelas, yaitu Rakyat Indonesia yg berjuang mencapai tujuan revolusi dipimpin oleh Ideologi Pancasila, tujuan revolusi sebagaimana tersebut dalam Pembukaan UUD 45..."(Buku Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5 hal 200 sd 201).

Pikiran Jendral AH Nasution sangat dipengaruhi oleh Prof Mr Djokosutono dimana dua muridnya Mr. Basyaruddin Nasution dan Kol Sutjipto SH banyak memberi masukan ke beliau.

Dalam konteks perlawanan beliau terhadap demokrasi liberal adakah tawaran solusi Jendral Nasution ?

Dalam konteks ketatanegaraan menurut UUD45 ada tawaran Jendral Nasution khususnya peranan TNI yg dipidatokan di Universitas Andalas. Namun kita akan tulis lain kali.

Tentang konsepnya yg tdk jalan sepenuhnya baik oleh faktor Presiden Soekarno dan mungkin juga oleh Jendral Soeharto, Nasution merenungkan belakangan :

"Jika saya renungkan kembali masa itu, saya berkesimpulan bahwa saya mempunyai kealpaan, ialah kurang memelihara hubungan pribadi dengan Bung Karno sebagai " bapak" yang suka diperlakukan demikian. Sehingga timbul jurang antara kami dan akhirnya saya tak berkesempatan merampungkan misi tersebut. Benarlah kata Jendral Gatot Soebroto bahwa saya " terlalu zakelijk".

Saya kurang berusaha membuat Bung Karno sebagai "pusat" segala sesuatu. Sebaliknya Jendral Yani bersikap menjadikan Bung Karno sebagai " bapak" bagi TNI.

Gaya hidup saya berbeda dari gaya hidup Bung Karno sehari hari walaupun sekitar 1959 saya sehari hari bersama Bung Karno, tapi rupanya beliau tetap memandang saya tetap " berdiri sendiri" .

Memang sejak semula saya berniat untuk meneruskan sikap " otonom" dari Pak Dirman dalam kehidupan bernegara dan sikap sederhana TNI dalam kehidupan pribadi sehari hari. ( hal 237).

MHT 24 Des 2016.

Geopolitik Asia Pasifik Sekarang Mirip PD II, Posisi Indonesia Di mana?


Kita semua tahu bahwa awal pemicu Perang Dunia ke II terjadi ketika Hitler mengumumkan menolak pembayaran utang Luar Negeri Jerman saat jatuh tempo tanggal 23 Maret 1933, dengan kata lain dia merobek utang dan reparasi dari perjanjian Versailles.

Kebijakan Hitler itu akhirnya pada tanggal 24 Maret 1933, organisasi Yahudi Internasional yang menguasai 80% bisnis di Eropa antara lain Bank Pribadi, kepemilikan saham serta para broker menyatakan perang terhadap Jerman karena mereka merasa dirugikan oleh kebijakan Hitler tersebut.

Tidak terima dengan ancaman organisasi Yahudi itu, Hitler pun mengambil tindakan militer secara agresif membantai bangsa Yahudi di Jerman dan Eropa hingga mengakibatkan Perang Dunia II.

Kondisi yang terjadi di Asia Pasifik hari ini mirip seperti kondisi pada awal Perang Dunia II antara Jerman dan bangsa Yahudi.

Dimana, bisnis, ekonomi, dan keuangan/perbankan hampir di semua negara-negara Asia Pasifik telah dikuasi oleh negara China dan Overseasnya termasuk negara Indonesia.

Tidak saja itu, bahkan China dan Overseasenya telah merampok negara Amerika Serikat, seperti yang dikemukakan oleh Presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump “Kita tidak bisa terus membiarkan China merampok negara kita. Itulah yang akan kami lakukan. Kami sedang melakukan perubahan. Jangan lupa, kami juga memiliki kartu dan banyak kekuatan dengan China”.

Esensi dari apa yang disampaikan oleh Donald Trump ini tidak beda jauh seperti apa yang telah dilakukan oleh Hitler terhadap bangsa Yahudi. Pernyataan Donald Trump itu mengindikasikan akan memperkuat nasionalisme bangsa Amerika Serikat untuk Bangkit melawan China dan Overseasenya.

Selain itu, kepentingan hegomoni regional Amerika Serikat di Asia Pasifik dan di Laut China Selatan semakin intens yang berpotensi akan berhadap-hadapan dengan China dan Korea Utara.

Hal ini dikarenakan, China dan Korea Utara sudah siap untuk mengambil kontrol Asia Pasifik dan Laut China Selatan dari tangan Amerika Serikat dengan terus membangun kekuatan militer mereka sebagai strategi mutlak menyingkirkan Amerika Serikat.

Upaya China dan Korea Utara ini bertujuan agar lebih leluasa mengendalikan pasar Asia Pasifik baik bisnis, ekonomi, keuangan perbankan perbankan serta kerja sama bisnis global jangka panjang dan sekaligus menjaga potensi sumber daya hayati dan mineral yang terkandung di Laut Cina Selatan.

Gerakan China dan Korea Utara ini berbasis superiority skin color etnic yang ujung-ujungnya adalah menyatu dalam kepentingan SARA (komunis).

Jika China dan Korea Utara berupaya keras menyingkirkan hegomoni regional Amerika Serikat dengan menonjolkan kekuatan militer mereka dari Asia Pasifik dan Laut China Selatan.

Maka Amerika Serikat pun tidak akan diam karena strategi China dan Korea Utara ini tentu mengganggu kepentingan regional Amerika Serikat.

Dengan demikian dapat dipresiksikan akan terjadi perang militer berbasis SARA antara nasionalisme kulit putih Amerika Serikat yang dibantu sekutu versus China dan Korea utara (komunis).

Sedangkan negara-negara yang sedang bersengketa dengan China di Laut China Selatan dan negara-negara yang dijajah oleh China melalui utang-piutang, ekonomi, dan bisnis sebagian besarnya akan membantu Amerika Serikat dan sekutu sebagai gerakan solidaritas anti China.

Pertanyaannya bagaimana dengan Indonesia ?

By : Dahlan Watihellu