Tuesday, December 22, 2009

The Assassins


Pada pertengahan abad ke 12, di Syria terdapat sebuah kelompok rahasia para penghisap ganja. Mereka berusaha merebut tahta kepemimpinan Islam pada masa itu dengan cara-cara kekerasan. Kelompok ini memiliki struktur organisasi rapi. Mereka membangun sistem sel bawah tanah. Membentuk agensi dan spionase dengan struktur kepemiminan piramidal. Jaringan intelijen piramidal ini mereka gerakkan di tengah masyarakat Muslim di seluruh dunia.

Dalam kepemimpinan piramidal ini, ada satu pemimpin tertinggi. Tugasnya mengatur se1uruh agen-agen di berbagai wilayah masyarakat Muslim. Para eksekutor kelompok dalam organisasinya ini disebut Assassins.

Semula, kelompok Assassins ini disebut Nizariyah. Karena, mereka berusaha mengembalikan Pangeran Nizar al- Toyyib ke tahta kekuasaan Mesir. Nizariyah melakukan cara ini karena yakin bahwa Pangeran Nizar al- Toyyib adalah reinkarnasi Nabi Ismail as. Namun berkali Nizariyah salah patron dan gagal meraih tujuan. Akhirnya mereka berinovasi menentukan pemimpin.

Merasa mendapat jalan buntu dan jengah mengalami kegagalan akibat salah memilih pemimpin, Nizariyah mereorientrasi sistem oganisasi dan bertindak berbeda dengan cara-cara sebelumnya. Kali ini, Nizariyah melanggar syariah Islam. Mereka menyabotase dan mengadopsi secara compang-camping akidah Syiah tentang Imam Mahdi. Dengan dalih mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya Imam Mahdi, Imam ke 12 yang diagungkan masyarakat Syiah, kelompok Nizariyah melancarkan serangan bawah tanah kepada orang-orang yang dianggap musuhnya.

Perbuatan Nizariyah ini jelas bertentangan dengan syariah Islam yang disampaikan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan keyakinan masyarakat Syiah. Kepemimpinan Nabi pamungkas itu dilanjutkan oleh 12 Imam. Imam terakhir adalah Imam Mahdi yang dijanjikan Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai penegak keadilan akhir zaman.

Sehebat apapun atraksi mereka, meski mengklaim gerakannya demi mempersiapkan kehadiran Imam¬Mahdi, sangat jelas mereka melanggar syariat Islam Syiah. Misalnya, kelompok Nizariyah membolehkan setiap pemimpin mereka memiliki hak istimewa; meminum anggur hingga mabuk, menghisap ganja hingga teler. Lebih fatal lagi, pemimpin mereka dihalalkan membunuh umat Islam lainnya dengan dalih jihad. Penyimpangan total terhadap syariat Islam yang mereka lakukan menjadi alasan para ulama Syiah mendakwa mereka sebagai orang-orang murtad dan sesat.

Setelah dinyatakan bersalah dan sesat, kelompok Nizariyah meninggalkan Mesir dan pindah ke Syria. Kemudian, di sana kaum Nizariyah dikenal sebagai kelompok hashshasin. Bahasa Inggris mengkonversi kata ini menjadi Assassins, artinya para pembunuh. Namun penegasan ini masih mengandung kontroversi. Hashshasin yang diartikan "penghisap ganja", menurut beberapa pakar Bahasa Arab berasal dari kata yang artinya "penjaga rahasia-rahasia".

Selanjutnya, dalam kendali kepemimpinan Hasan bin Sabah, kelompok Assassins banyak melakukan serangan gerilya secara keji. Mereka menyerang kota Baghdad dari markas besar Lembah Alamut, di sebelah utara Persia. Mereka berusaha menggulingkan penguasa pada masa itu.

Dalam The History of the Assassins, Amin Maluf, menjelaskan bahwa Hasan bin Sabah adalah master budaya dan penyair yang menguasai sains moderen. Hasan bin Sabah berusaha keras membangun organisasi Assassins. Dia adopsi teknik-teknik Darul Hikmat di Kairo, Mesir. Dia berambisi memajukan organisasi yang dipimpinnya itu. Terbukti, setelah dua abad lebih, kel0mpok Assassins lihai membunuh musuh-musuhnya dengan racun dan senjata. Kelompok ini juga mahir melakukan serangan-serangan bawah tanah yang pernah menjadi momok di kawasan Timur Tengah.


Benteng Assassins di LembahAlamut menjadi salah satu legenda Persia yang terkenal dengan sebutan "surga dunia". Marco Polo terkesan akan kemegahan dan kemewahan Benteng Alamut. Usai perjalanannya melintasi benteng itu pada tahun 1271 M, dia menulis:



Di lembah elok itu, di antara dua gunung tinggi menjulang, dia (Hasan bin Sabah) membangun taman¬taman mewah. Di dalamnya tumbuh semua pohon berbuah ranum dan segala tumbuhan harum yang bisa dipetik. Istana-istana dengan ragam luas dan bentuk dibangun di setiap hamparan taman yang berbeda¬beda. Istana-istana itu dihias batu emas. Di dinding¬dindingnya bergelantungan lukisan-lukisan. Di jendela¬jendelanya bermacam kelambu sutra mewah terpajang.

Di ruang-ruang istana, suguhan anggur, susu, madu dan air bersih tersaji di tiap sudutnya. Penghuninya gadis¬gadis cantik molek. Mereka semua pandai bernyanyi, memainkan berbagai alat musik dan menari. Mereka semua manja serta memikat dengan sejuk.

Sebuah kastil kokoh, seolah mustahil dihancurkan menancap di gerbang. Dia ingin tak seorang pun masttk ke "surga dunia" itu tanpa ijinnya. Itulah pintu masuk menuju lembah elok itu.

Hasan bin Sabah merekrut para pemuda di wilayahnya sebagai pengikutnya dengan cara membius mereka dan mengangkutnya ke lembah itu. Setelah sadar, ternyata mereka berada di "surga dunia" itu. Pemandangan surga dunia dipamerkan kepada mereka. Segala kenikmatan bius mereka rasakan berbarengan dengan doktrin-doktrin sebelum akhirnya dilepas kembali ke tengah masyarakat.

Setelah para pemuda itu diculik oleh Hasan bin Sabah untuk dijadikan murid, ketika itu mereka dicuci-otak dengan berbagai merek dan type tipu daya. Akal sehat mereka menjadi hilang. Bagi mereka, sosok Hasan bin Sabah adalah segalanya. Moto mereka kemudian: Tak ada larangan! Semua halal!

Para pemuda "berotak haru" itu telah terbiasa dengan kenikmatan di lembah "surga dunia": Akhirnya mereka merasakan dunia luar tak bernilai apa-apa. Mereka mabuk doktrin Hasan bin Sabah. Setelah terbiasa dengan kemewahan, ketika mereka dikembalikan di lingkungan semula yang sarat dengan kerja keras dan hambatan¬hambatan, timbul rasa ingin kembali ke taman surgawi Hasan bin Sabah. Untuk mendapatkan lagi kenikmatan¬"surga dunia" itu, mereka halalkan segala cara dan rela meski nyawa sebagai taruhan.

Art of Imposture (Seni Menipu). Begitu Abdul Rahman menulis. Dia catat muslihat Hasan bin Sabah ketika memerintah seorang murid terdekatnya yang memiliki loyalitas tinggi ditanam hingga leher. Kemudian murid yang hanya kelihatan kepalanya di atas tanah itu dilumuri darah segar. Tampaklah kepala itu tanpa tubuh. Sebelumnya murid terdekat itu dikabarkan terpenggal kepalanya di medan perang. Setelah murid loyal itu benar-benar tampak seolah mati, Hasan bin Sabah mengumpulkan murid¬murld barunya untuk menyaksikan kepala berlumur darah tanpa tubuh itu. Di depan murid-murid baru itu, murid loyal yang hanya tampak kepalanya di atas tanah itu mengabarkan kenikmatan surga.

Murid-murid barupun mendengar syair-syair palsu tentang surga yang terujar dari kepala berlumur darah itu. Indah dan menggiurkan. Mereka menyangka, seniornya itu telah masuk surga. Setelah Hasan bin Sabah benar¬benar yakin bahwa murid-muridnya telah terbius oleh tipu-dayanya, dia memerintah mereka kembali ke "surga dunia". Kemudian, murid yang ditanam hinggga leher itu, benar-benar dipenggal. Untuk menyempurnakan tipu muslihatnya, Hasan bin Sabah memajang kepala itu di tiang ritual hingga selalu bisa disaksikan seluruh penduduk lembah."surga dunia". Murid-muridpun terbius surga palsu

Arkun Daraul dalam karyanya A History of Secret Societies, membagi kelompok rahasia pengikut Assassins menjadi tiga lapis: pertama, para misionaris (Dayes), kedua para sahabat (Rafiq), ketiga adalah murid-murid yang teruji kesetiaannya, pecintanya (Muhibbin). Golongan terakhir adalah para eksekutor terlatih. Para muhibbin mencirikan diri dengan topi putih dan sepatu boot merah. Ketiga lapis kelompok Assassins, selain mahir menghunjam belati di dada korbannya, mereka juga menguasai bermacam bahasa. Ada kalanya mereka berdandan dan berperilaku seolah pendeta. Mereka juga berbaur dengan masyarakat dengan menjadi pedagang dan serdadu. Intinya, mereka siap menyamar apa saja sebagai kedok demi menjalankan misi dan meraih tujuan.

Kata sandi anggota Assassins adalah "dari surga". Setiap ada "surat perintah jalan" untuk misi, eksekutor Assassins akan mendapat pertanyaan, "Dari mana asalmu?" Sang eksekutor pun menjawab, "Dari surga." Setelah dipastikan, instruksi dimandatkan, "Bunuhlah fulan/fulanah. Setelah berhasil, kau akan kembali menghuni surga. Jemputlah kematian! Karena para malaikat tak sabar mengangkatmu ke surga."

Pengaruh Assassins menyebar ke seantero jagad hingga pertengahan abad 13. Setelah Basan bin Sabah terbunuh di tangan anaknya sendiri, Muhammad, kelompok Assassins mengalami kemunduran. Kemudian Muhammad juga dibunuh anaknya sendiri. Tahun 1256, markas besar Assassins, Benteng Alamut, jatuh ke tangan Penjajah Mongol yang menandai akhir riwayat Assassins.

Pada awal abad 16, pemerintahan Ottoman yang berkuasa, menghancurkan pertahanan terakhir Assassins di Syria. Tamatlah riwayat kekuatan militer Assassins yang tak terkalahkan pada masanya. Perubahan besar ini menjadikan dinasti pemimpin "Nizariyah Ismailiyah memodernisasi organisasinya. Agha Khan adalah tokoh utamanya. Kemudian mereka menghilangkan citra Assassins atau 'pembunuh'. Organisasi yang berubah total ini mensyaratkan toleransi kepada sesama umat manusia sebagai lanskap kegiatannya dan melaksanakan perintah al-Quran.

Sumber : Secret Societies - 21 Organisasi Perusak Dunia - oleh William Bradley

Friday, November 6, 2009

Puisi Negeri Para Bedebah

Oleh : Adhie M Massardi

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor
menjatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau menjadi kuli di negeri orang
Yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedangkan rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila melihat negeri dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi, dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan !

Friday, May 29, 2009

Biographies of the Rightly-Guided Caliphs


Ibn Katheer, At-Tabari, As-Syooti and Other Historians. The four Rightly guided Caliphs (Khaliph's) Abu Bakr As-Sideeq, Umar ibn Al-Khattaab, Uthmaan Ibn 'Affaan and Ali Ibn Abi Taalib. The Biography of Umar Ibn Abdel-Azeez who is regarded as one of the Rightly Guided Khaliphs is also included in this book

Wednesday, May 13, 2009

Ashabu Rayati Suud (Pasukan Panji Hitam)


Generasi Thaifah Manshurah yang Dijanjikan Kemunculannya di Akhir Zaman

Thaifah Manshurah, Senantiasa ada hingga kiamat


Dalam berbagai hadits yang shahih telah dijelaskan bahwa akan senantiasa ada sekelompok umat Islam yang berpegang teguh di atas kebenaran. Mereka melaksanakan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan konskuen, memperjuangkan tegaknya syariat Islam, dan meraih kemenangan atas musuh-musuh Islam, baik dari kalangan kaum kafir maupun kaum munafik dan murtadin.

Kelompok Islam ini disebut ath-thaifah al-manshurah atau kelompok yang mendapat kemenangan. Kelompok ini akan senantiasa ada sampai saat bertiupnya angin lembut yang mewafatkan seluruh kaum beriman menjelang hari kiamat kelak. Kelompok ini diawali dari Rasulullah saw beserta segenap sahabat, berlanjut dengan generasi-generasi Islam selanjutnya, sampai pada generasi Islam yang menyertai imam Mahdi dan Nabi Isa dalam memerangi Dajjal dan memerintah dunia berdasar syariat Islam.

Hadits-hadits tentang ath-thaifah al-manshurah diriwayatkan banyak jalur dari sembilan belas (19) shahabat. Menurut penelitian sejumlah ulama hadits, hadits-hadits tentang ath-thaifah al-manshurah telah mencapai derajat mutawatir.

Kelompok umat Islam ini adalah kelompok elit umat Islam. Mereka adalah sekelompok kecil kaum ‘fundamentalis Islam’, di tengah kelompok umat Islam yang telah mulai lalai dari kewajiban berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka adalah ‘muslim-muslim militan’ yang sangat dikhawatirkan oleh AS dan Barat akan mengancam kepentingan mereka. Rasulullah saw menamakan kelompok ini sebagai ath-thaifah al-manshurah, kelompok yang mendapatkan kemenangan. Penamaan ini merupakan sebuah janji kemenangan bagi kelompok ini, baik dalam waktu yang cepat maupun lambat, baik kemenangan materi maupun spiritual.

Di antara hadits-hadits tentang ath-thaifah al-manshurah tersebut adalah sebagai berikut:

Akan senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang meraih kemenangan (karena berada) di atas kebenaran, orang-orang yang menelantarkan mereka tidak akan mampu menimbulkan bahaya kepada mereka, sampai datangnya urusan Allah sementara keadaan mereka tetap seperti itu .”[1]

Akan senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang berperang di atas urusan Allah. Mereka mengalahkan musuh-musuh mereka. Orang-orang yang memusuhi mereka tidak akan mampu menimpakan bahaya kepada mereka sampai datangnya kiamat, sementara keadaan mereka tetap konsisten seperti itu.”[2]

Ashabu Rayati Suud, Generasi Akhir Thaifah Mansurah yang dijanjikan
Dalam sebuah riwayat tentang Thaifah manshurah disebutkan, “Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang berperang di atas kebenaran. Mereka meraih kemenangan atas orang-orang yang memerangi mereka, sampai akhirnya kelompok terakhir mereka memerangi Dajjal.”[3]

Riwayat tersebut menjelaskan bahwa di akhir zaman, kelompok Thaifah Manshurah adalah mereka yang bergabung dengan Al-Mahdi untuk memerangi musuh-musuh Islam, dimana Dajjal adalah salah satu yang akan dikalahkan oleh kelompok ini. Parameter kebenaran saat itulah adalah mereka yang bersama Al-Mahdi, sedang mereka yang menolak Al-Mahdi adalah munafik (hal itu sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadits fitnah duhaima’). Sedangkan kelompok Thaifah Manshurah yang memberikan dukungan kepada Al-Mahdi telah dijelaskan ciri-ciri mereka dalam beberapa riwayat yang kemudian dikenal dengan nama Ashabu Rayati Suud (Pasukan Panji Hitam dari Khurasan).

Benar, membicarakan kemunculan Al-Mahdi tidak bisa terlepas dari membicarakan satu kelompok manusia yang menamakan dirinya sebagai pasukan panji hitam (Ashhabu Rayati Suud / The Black Banner). Kelompok ini memiliki beberapa ciri khusus yang akan lebih memudahkan bagi seseorang untuk mengenalinya. Meskipun demikian, tidak mudah bagi seseorang untuk menjustifikasi kelompok tertentu bahwa mereka adalah Ashhabu Rayati Suud. Sebab ciri-ciri tersebut juga banyak dimiliki oleh banyak manusia dan kelompok, sedang riwayat yang menunjukkan asal keberadaan mereka (Khurasan) merupakan sebuah wilayah luas yang dihuni oleh banyak manusia.

Siapakah sebenarnya Ashahbu Rayati Suud yang kelak menjadi pendukung Al Mahdi ? Benarkah riwayat yang membicarakan kemunculan kelompok ini ?

Ada beberapa riwayat yang menjelaskan keberadaan kelompok ini, di antaranya adalah sebagai berikut
□ “Akan keluar sebuah kaum dari arah Timur, mereka akan memudahkan kekuasaan bagi Al Mahdi.”

□ “Dari Khurasan akan keluar beberapa bendera hitam, tak sesuatupun bisa menahannya sampai akhirnya bendera-bendera itu ditegakkan di Iliya (Baitul Maqdis).”

□ “Akan keluar manusia dari Timur yang akan memudahkan jalan kekuasaan bagi Al ‘ Mahdi.”

Namun riwayat-riwayat tersebut memiliki cacat dari sisi sanad dan periwayatannya. Sedangkan riwayat tentang Ashhabu Rayati Suud yang sampai pada derajat hasan adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh sahabat Tsauban :

“Akan berperang tiga orang di sisi perbendaharaanmu. Mereka semua adalah putera khalifah. Tetapi tak seorang pun di antara mereka yang berhasil menguasainya. Kemudian muncullah bendera-bendera hitam dari arah timur, lantas mereka membunuh kamu dengan suatu pembunuhan yang belum pernah dialami oleh kaum sebelummu.” Kemudian beliau saw menyebutkan sesuatu yang aku tidak hafal, lalu bersabda: “Maka jika kamu melihatnya, berbai’atlah walaupun dengan merangkak di alas salju, karena dia adalah khalifah Allah Al-Mahdi.[4]

Riwayat tersebut tidak banyak menjelaskan ciri-ciri fisik tertentu secara detil sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat-riwayat lainnya. Tentang maksud perbendaharaan dalam riwayat tersebut Ibnu Katsir berkata, “Yang dimaksud dengan perbendaharaan di dalam hadits ini ialah perbendaharaan Ka’bah. Akan ada tiga orang putera khalifah yang berperang di sisinya untuk memperebutkannya hingga datangnya akhir zaman, lalu keluarlah Al-Mahdi yang akan muncul dari negeri Timur.

Zaman Kemunculan Ashabu Rayati Suud

Berdasar riwayat Tsauban di atas, kemunculan Ashhabu Rayati Suud adalah di saat kemunculan Al-Mahdi. Riwayat tersebut mengisyaratkan bahwa keberadaan Ashhabu rayati Suud dan embrionya sudah muncul jauh-jauh hari sebelum kemunculan Al-Mahdi. Sebab, kemunculan sebuah kelompok yang kelak mewakili satu-satunya kelompok paling haq di antara kelompok umat Islam yang ada jelas tidak mungkin muncul dengan sekejab, sim salabim. Keberadaan mereka sudah ada dan embrio mereka terus tumbuh di tengah kerasnya kecamuk perang dan debu-debu mesiu. Ciri khas mereka dalam riwayat di atas – memiliki kemampuan membunuh lawan yang tidak pernah dimiliki oleh kaum sebelumnya – menggambarkan betapa dahsyatnya daya tempur dan strategi militer yang mereka punyai. Riwayat ini juga mengisyaratkan bahwa aktivitas mereka sebelum kemunculan Al-Mahdi adalah perang dan pembunuhan, hal yang menjadi ciri khas thaifah manshurah di akhir zaman.

Riwayat Tsauban di atas juga mengisyaratkan bahwa kemunculan Ashabu Rayati Suud dari Khurasan ini terjadi di saat kematian seorang raja Saudi yang dilanjutkan dengan pertikaian tiga putra khalifah untuk memperebutkan Ka’bah.

Dalam hal ini, banyak analisa menyebutkan bahwa boleh jadi kondisi itu akan segera menjadi realita demi melihat apa yang saat ini terjadi di Saudi. Adalah Tony Khater [5], seorang analis politik Amerika dengan spesialisasi kajian Timur Tengah khususnya Arab Saudi, telah secara konsisten menyebutkan tentang terpecahnya pemerintahan Arab Saudi menjadi empat kelompok sebelum wafatnya Raja Fahd, seakan-akan kelompok-kelompok itu memunyai pemerintahannya sendiri-sendiri, yaitu pemerintahan Putra Mahkota Pangeran Abdullah, pemerintahan Pangeran Nayef, pemerintahan Pangeran Sultan, dan pemerintahan Pangeran Salman. Dengan wafatnya Raja Fahd, lalu Putra Mahkota Abdullah yang telah berusia 80 tahun naik menjadi raja, maka di bawahnya terdapat tiga pangeran dengan pemerintahannya sendiri-sendiri yang bersiap-siap menggantikannya ketika ia wafat nanti, yaitu Pangeran Nayef, Pangeran Sultan, dan Pangeran Salman.

Jika ini kelak terjadi, akankah ia menjadi tanda kemunculan Al-Mahdi dan menjadi tanda keluarnya Ashabu Rayati Suud? Lalu siapakah kelompok yang layak untuk disebut sebagai Ashabu rayati Suud, kelompok Thaifah Manshurah akhir zaman yang dijanjikan?

Ashabu Rayati Suud akan muncul dari timur Khurasan, benarkah mereka Thaliban dan Al-Qaeda ?

Kemunculan salah satu tandhim askari kaum militan fundamental di wilayah Khurasan (Afghanistan, Iraq dll) yang dikenal dengan Thaliban dan Al-Qaeda memunculkan pertanyaan, benarkah mereka adalah calon Ashhabu Rayati Suud yang dijanjikan? Pasalnya, kelompok ini adalah satu-satunya kaum militan muslim yang paling ditakuti oleh barat karena kehebatan tempur mereka, juga karena cita-cita mereka yang radikal; mendirikan negara Islam dari ujung Asia Tenggara hingga barat Maroko. Mereka adalah muslim fundamental yang paling kuat melaksanakan hukum Islam sebagaimana yang pernah berlaku di Madinah pada masa Rasulullah saw. Merekalah satu-satunya kelompok yang paling mendekati gambaran kehidupan Rasulullah saw dan para sahabatnya; beriman, hijrah, perang, mendirikan daulah Islam, melaksanakan semua kewajiban tanpa terkecuali, mendapat boikot dan kecaman internasional, mendapat ujian paling berat dan menyatakan keimanannya, dikepung oleh pasukan ahzab dan banyak lagi sejarah kehidupan generasi assabiqunal awwalun yang hari ini tergambar dalam realitas hidup mereka.

Beberapa analis pemerhati hadits-hadits fitnah menduga; bahwa merekalah yang lebih layak untuk menyandang gelar kehormatan itu sesuai dengan beratnya ujian keimanan yang mereka hadapi.

Dalm hal ini, terlepas dari tepat atau melesetnya dugaan-dugaan tersebut, ada hal lain yang lebih penting untuk dipahami oleh seorang muslim berkaitan dengan dua kelompok fundamental ini. Setiap muslim hendaknya berhati-hati untuk tidak menjatuhkan vonis tertentu pada kelompok-kelompok yang secara lahir memiliki stigma dan citra negatif dari musuh-musuh Islam –bahkan dari kalangan umat Islam sendiri- bahwa hal itu bukan berarti keadaan mereka adalah sebagaimana tuduhan itu. Merupakan sunnatullah bahwa musuh-musuh Islam dari bangsa barat memiliki dendam dan kebencian kepada setiap muslim yang memegang teguh agama mereka. Dalam hal ini, kelompok Thaliban dan Al-Qaeda yang sangat komitmen menegakkan semua bentuk syari’at Islam dalam masyarakatnya sangat wajar bila dibenci oleh bangsa Barat. Termasuk sebagian kaum muslimin yang termakan oleh isu dan propaganda bangsa barat tentang “kekejian dan kejahatan” Thaliban terhadap manusia.

Tanpa bermaksud memastikan apakah Thaliban merupakan termasuk kelompok Ashhabu Rayatis Suud, yang pasti bahwa memberikan tuduhan jahat dan keji yang belum tentu demikian kenyataannya merupakan kejahatan tersendiri. Sementara mendoakan mereka, mengharapkan mereka untuk membela umat Islam, mengusir musuh-musuh Islam dan menegakkan syari’at di muka bumi merupakan sikap yang baik.

Namun demikian – terlepas bahwa Thaliban dan Al-Qaeda memiliki ciri-ciri yang banyak keserupaannya dengan kelompok Ashabu Rayati Suud – yang jelas memastikan secara haqqul yakin bahwa mereka adalah Ashabu Rayati Suud termasuk sikap tergesa-gesa. Namun, mudah-mudahan tidak salah jika kita berharap, semoga mereka itulah kelompok yang dimaksudkan. Amiin.
Wallahu a’lam bish shawab.

[1]. HR. Muslim: Kitabul Imarah no. 3544 dan Tirmidzi: Kitabul Fitan no. 2155
[2]. HR. Muslim: Kitabul Imarah no. 3550.
[3]. HR. Abu Daud: Kitab al-Jihad no. 2125, Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 1959.
[4]. Sunan Ibnu Majah, Kitabul Fitan Bab Khurujil Mahdi 2: 1467: Mustadrak Al-Hakim 4: 463-464. Dan dia berkata, “Ini adalah hadits shahih menurut syarat Syaikhain.” (An-Nihayah fit Firan 1:29 dengan tahqiq DR. Thana Zaini).
[5]. Pada situs Saudipolitics.com, 1 Januari 2004, Tony Khater, THE UNITED STATES AS UNWANTED BROKER IN ROYAL SECESSION; IT WANTS BANDAR BIN SULTAN AS CROWN PRINCE”

Sumber : http://granadamediatama.wordpress.com

Monday, April 27, 2009

War Song of the Saracens


We are they who come faster than fate:
We are they who ride early or late:
We storm at your ivory gate:
Pale Kings of the Sunset, beware!
Not on silk nor in samet we lie,
Not in curtained solemnity die
Among women who chatter and cry,
And children who mumble a prayer.
But we sleep by the ropes of the camp,
And we rise with a shout, and we tramp
With the sun or moon for a lamp,
And a spray of wind in our hair.

From the land where the elephants are,
To the forts of Merou and Balghar,
Our steel we have brought and our star
To shine on the ruins of Rum.
We have marched from the Indus to Spain,
And by God we will go there again;
We have stood on the shore of the plain
where the Waters of Destiny boom.

A mart of destruction we made
at Jalula where men were afraid,
For death was a difficult trade,
And the sword was a broker of doom;
And the Spear was a Desert Physician
who cured not a few of ambition,
And drave not a few to perdition
With medicine bitter and strong:
And the shield was a grief to the fool
And as bright as a desolate pool,
And as straight as the rock of Stamboul
When their cavalry thundered along:
For the coward was drowned with the brave
When our battle sheered up like a wave,
And the dead to the desert we gave,
and the glory to God in our song.

by James Elroy Flecker


Wednesday, April 8, 2009

Sultan Muzaffar Saifuddin Qutuz, Pahlawan Perang Ain Jalut (25 Ramadhan 658H / 3 September 1260M)

Di 10 hari yang terakhir dalam bulan Ramadhan, kita sering diingatkan dengan satu malam, iaitu malam yang menyamai 1000 bulan. Pastinya akan muncul ramai pemburu- pemburu Lailatul Qadar di 10 malam yang terkahir ini. Barangsiapa beribadah pada malam tersebut, maka akan tercatit amalannya seumpama dia membuat amalan selama 1000 bulan, Maha Agung dan Maha Kasihnya Allah yang tiada tuhan selainnya menganugerahkan hadiah sebegini untuk diraih oleh umat Muhammad. Semoga kita semua melipatgandakan amalan kita di penghujung Ramadhan ini dan seterusnya pada bulan – bulan yang lain. Kali ini, kami ingin mengajak para pembaca sekalian , agar sama- sama mengimbas kembali sejarah generasi terdahulu dimana hidup mereka penuh dengan amalan kebaikan dan tunduk patuh kepada perintah Allah. Mereka melakukan kewajipan jihad, sebagaimana mereka melaksanakan kewajipan berpuasa di bulan Ramadhan.

Apa yang ingin kami kongsikan disini kali ini ialah tentang satu peristiwa yang agung dalam peradaban Islam. Peristiwa di mana umat Islam bersatu menentang tentera Tartar dari Mongolia dan mengalahkan mereka. Kebanyakan ahli sejarah berpendapat bahawa perang ini merupakan satu titik perubahan (turning point) bagi kebiadapan dan kerakusan tentera Mongol yang menghabisi segala apa yang mereka lalui dari timur ke barat dan akhirnya kemaraan mereka ditamatkan oleh tentera- tentera Allah di Ain Jalut.

Hulagu Khan, pewaris tahta Gengis Khan

Empayar Mongol diasaskan oleh Genghis Khan pada abad ke-13 M. Genghis Khan bercita- cita untuk meluaskan empayarnya dari timur ke barat dan meranapkan apa sahaja yang menghalang mereka dari mencapai cita- cita tersebut. Kempen invensi mereka bermula dengan menakluki beberapa negara di sekitar Mongolia dan mereka terus mara ke sebelah timur yang dikuasai oleh umat Islam. Malangnya cita- cita Genghis Khan untuk melihat empayarnya terbentang luas dari timur ke barat tidak kesampaian apabila nyawanya telah dicabut oleh Allah, setelah beliau jatuh dari kuda tunggangannya. Namun begitu, pada 1251M, Hulagu Khan iaitu cucu kepada Genghis Khan setelah dilantik menjadi pewaris takhta empayar Mongol, berjanji untuk meneruskan cita- cita datuknya untuk menguasai seluruh penjuru dunia.

Untuk merealisasikan impian ini, Hulagu Khan mengumpul kekuatan tenteranya di Asia Tengah selama 2 tahun sebelum melancarkan serangan ke atas umat Islam yang bernaung di bawah keKhilafahan Abasiyyah. Pada tahun 1253M, hulagu Khan mula melakukan ekspedisi penaklukan ke atas wilayah Khilafah Abasiyyah. Tentera yang telah menakluk 200 kota dalam masa hanya 2 tahun ini dan mampu bergerak sejauh 100 batu dalam masa satu hari serta memiliki peralatan peperangan yang canggih, hasil daripada invensi jurutera- jurutera perang mereka, akhirnya telah berjaya menusuk masuk ke jantung Khilafah Abasiyyah. Akhirnya pada tahun 1258M, Baghdad, iaitu ibu kota Khilafah Abasiyyah jatuh ke tangan tentera Tartar.

Kejatuhan Baghdad & Surat Hulagu Khan

Kejatuhan Baghdad merupakan satu peristiwa yang sangat tragis dalam sejarah umat manusia. Setelah berjaya mengalahkan tentera- tentera Khilafah, tentera Monggol dengan biadapnya membunuh seramai 1.8 juta kaum muslimin yang berada di kota Baghdad. Juga tidak ketinggalan, Khalifah umat Islam turut dibunuh dengan kejam. Selama 3 tahun setengah, umat Islam hidup tanpa Khalifah. Ada ahli sejarah menukilkan bagaimana si Hulagu Khan ini melakukan pembunuhan terhadap khalifah dengan cara memasukkan khalifah di dalam gulungan permaidani dan memijak dengan kudanya. Tidak cukup dengan itu, tentera Tartar yang biadap ini memusnahkan banyak kitab- kitab karangan cendiakawan- cendiakawan di Baghdad dengan mencampakkannya ke dalam laut sehingga air laut bertukar kehitaman akibat banyaknya kitab- kitab tersebut.

Hulagu Khan tidak berhenti di sini sahaja. Setelah berjaya menakluki Baghdad, dia mengutuskan deligasi Mongol ke Mamluk Mesir, iaitu Sultan Muzaffar Saifuddin Qutuz. Deligasi ini datang dengan membawa surat dari Hulagu Khan. Surat Hulagu Khan ini berbunyi :

Dari Raja Segala Raja di Timur dan Di Barat, Khan Yang Agung Kepada Qutuz si Mamluk yang lari dari pedang-pedang kami!

Kamu seharusnya berfikir mengenai apa yang telah berlaku ke atas negara-negara yang lain dan menyerah kepada kami. Kamu telahpun mendapat khabar berita bagaimana kami telah menawan empayar yang begitu besar, menyucikan bumi ini dari kerosakan yang mencacatkannya. Kami telah menawan kawasan yang luas dan membunuh semua manusia dengan kejam. Kamu tidak akan terlepas dari kerakusan dan kekejaman tentera kami!

Ke mana lagi kamu ingin lari? Jalan mana lagi yang kamu akan gunakan untuk melepaskan diri dari kami? Kuda-kuda kami berlari kencang, anak-anak panah kami tajam, pedang-pedang kami bagaikan guruh yang menakutkan, hati-hati kami keras bagaikan gunung ganang, askar-askar kami banyak tak terbilang. Benteng-benteng kukuh tidak akan dapat menghalang kami, senjata-senjata tidak akan dapat membendung kami. Doa kamu tidak akan membawa apa-apa pengertian ke atas kami. Kesedihan dan ratapan tidak kami pedulikan. Hanya mereka yang merayu untuk perlindungan kami akan selamat.

Bersegeralah dalam membalas surat ini sebelum api peperangan bermula. Jika kamu melawan, maka barang pasti kamu akan menderita dan tersiksa dengan kehancuran yang dahsyat. Kami akan menghancurkan masjid-masjid kamu dan mendedahkan kelemahan Tuhan kamu. Kemudian kami akan membunuh anak-anak kamu dan orang-orang tua di kalangan kamu.

Kini, hanya kamulah satu-satunya musuh yang perlu kami hadapi.

Setelah menerima surat tersebut, Saifuddin Qutuz tidak gentar sedikitpun. Malah beliau dengan berani menempelak deligasi tersebut dan membunuh mereka dan kepala mereka di gantung di pintu kota Mesir. (Nota : Islam tidak membenarkan membunuh deligasi asing yang diutuskan. Kebanyakan ahli sejarah menyatakan bahawa tujuan kedatangan deligasi tersebut bukanlah sekadar menghantar surat Hulagu Khan semata- mata, tetapi telah bertindak sebagai mata- mata tentera Tartar).

Maranya Tentera- Tentera Allah

Saifuddin Qutuz mula mengumpulkan tenteranya dan akhirnya tenteranya mencecah seramai 20 000 orang tentera. Mereka telah bermesyuarat dan akhirnya mereka memutuskan untuk meyerang tentera Mongol di luar kota Mesir iaitu melakukan tindakan offensif terhadap tentera Mongol. Tentera- tentera Allah ini mula bergerak ke luar kota Mesir menuju ke arah Palestin dan bertembung dengan tentera Tartar yang diketuai komandernya, Kitbuqa di Ain Jalut. Maka berlakulah peperangan yang amat dahsyat antara kedua- dua belah pihak. Semasa peperangan sedang sengit berlaku, Saifuddin Qutuz membuka topeng besinya dan menunggang kuda menuju ke tengah medan pertempuran dan memberi motivasi kepada tenteranya agar berjuang habis- habisan dan memburu syurga Allah. Beliau bertakbir beberapa kali dan terus meluru ketengah- tengah musuh.

Semasa perang Ain Jalut, isteri Sultan Saifudin Qutuz, iaitu Jullanar turut menyertainya. Ketika Jullanar sedang nazak, Saifudin Qutuz memapahnya dan berkata : ”Wahai Kekasihku”. Jullanar membalas dengan berkata : ”Wahai Saifuddin, lebihlah kasih kamu terhadap Islam”. Setelah itu, Saifuddin Qutuz terus mara ke medan tempur dan akhirnya pada hari Jumaat, 25 Ramadhan 658H, bersamaan dengan 3 September 1260M tentera- tentera Allah ini telah memperoleh kemenangan ke atas tentera Tartar di Ain Jalut. Tentera Tartar yang tidak pernah terkalahkan ini (sekiranya kalah dibeberapa medan perang, mereka akan mampu menebus balik kekalahan mereka), akhirnya tersungkur dihadapan mata pedang kaum muslimin dan tidak mampu menebus kembali kekalahan mereka di Ain Jalut.

Khatimah

Apa yang ingin kami bingkiskan disini bukanlah hanya peristiwa sejarah semata- mata. Tetapi yang lebih utama ialah supaya kita semua mengambil ibrah (pengajaran) daripada peristiwa yang berlaku. Sekiranya Sultan Muzaffar Saifuddin Qutuz bersama- sama dengan tenteranya sejumlah 20 000 orang mara kehadapan menentang satu ketumbukan tentera yang tak pernah kalah di bulan Ramadhan, sepatutnya ia sudah cukup memberi isyarat kepada kita bahawa bulan Ramadhan bukanlah bulan yang hanya semata- mata bulan ruhiyyah semata- mata, tetapi juga merupakan bulan siyasah (politik). Ketaatan dan kepatuhan kita menunaikan ibadah puasa sepatutnya sama dengan kepada ketaatan dan kepatuhan kita untuk melaksanakan seluruh ajaran Islam, termasuklah jihad dalam menghadapi musuh- musuh Allah.

Dalam menghadapi musuh- musuh Allah ini, sudah pastinya kita memerlukan satu kekuatan yang amat padu dari segenap aspek dan satu perpaduan yang amat utuh yang lahir dari aqidah yang satu iaitu Islam. Umat Islam yang kira- kira seramai 1.6 billion merupakan sumber tenaga manusia yang sangat besar. Sekiranya sumber- sumber ini disatukan dan difokuskan oleh seorang Khalifah, pastinya akan menghasilkan satu kekuatan besar dan peradaban Islam yang sangat agung. Ini bukanlah satu dongengan dan omong- omong kosong semata- mata, tetapi sejarah telah membuktikan hasilnya. Umat yang satu ini, pastinya akan mampu memakmurkan muka bumi ini sekiranya Islam diterapkan ditengah- tengah kehidupan mereka. Islam dijadikan ideologi dan menjadi penggerak kepada seluruh tindak tanduk umat yang satu ini dan bukannya dengan ideologi selainnya.

Sumber : http://www.mykhilafah.com

Monday, March 30, 2009

Sultan Saladin, Pahlawan Islam di Perang Salib


Dia dikenal sebagai raja, panglima perang yang jago strategi, pemimpin umat, dan sekaligus sosok yang santun dan penuh toleransi. Banyak manuskrip yang mencatat “Saladin Sang Raja Mesir” (Saladin, King of Egypt) sebagai simbol kekuasaan Eropa. Namanya tidak bisa dilepaskan dari Sejarah Perang Salib yang membawa kejayaan Islam, namun tanpa menindas kaum Kristiani.

Sultan Saladin lahir dengan nama Salahidun Yusuf Ibn Ayyub di Tikrit, dekat Sungai Tigris dari sebuah keluarga Kurdi. Ia dikirim ke Damaskus, Suriah, untuk menimba ilmu. Selama sepuluh tahun ia berguru pada Nur ad-Din (Nureddin). Setelah berguru ilmu militer pada pamannya, seorang negarawan Seljuk dan pimpinan pasukan Shirkuh, ia dikirim ke Mesir untuk menghadang perlawanan Kalifah Fatimiyah tahun 1160. Ia sukses dengan misinya yang membuat pamannya duduk sebagai wakil di Mesir pada tahun yang sama. Saladin memperbaiki perekonomian Mesir, mengorganisasi ulang kekuatan militernya, dan mengikuti anjuran ayahnya untuk tidak memasuki area konflik dengan Nur ad Din. Sepeninggal Nur ad Din, barulah ia mulai serius memerangi kelompok Muslim sempalan dan pembrontak Kristen. Dia bergelar Sultan di Mesir dan menjadi pendiri Dinasti Ayyubi serta mengembalikan ajaran Sunni ke Mesir.

Terlibat dalam Perang Salib
Dalam dua kesempatan, tahun 1171 dan 1173, Saladin diinvasi Kerajaan Kristen Jerusalem. Nur ad Din saat ini berniat membalas serangan. Namun Saladin berpendapat bahwa mereka harus kuat terlebih dulu. Sepeninggal Nur ad Din, Saladin menjadi penguasa Damaskus. Ia menikahi janda Nur ad Din dan menaklukkan dua kota penting Aleppo dan Mosul yang dulu selalu gagal ditaklukkan Nuraddin. Namun ia menjadi penguasa yang bersahaja. Sedapatnya, ia selalu menghindari pertumpahan darah, apalagi darah warga sipil. Saat menaklukkan Aleppo, 22 Mei 1176, nyawanya nyaris melayang karena usaha pembunuhan. Ia melakukan konsolidasi di Suriah sambil sebisa mungkin menjaga agar jangan sampai tumpah perang dengan pasukan salib sebesar apapun provokasi dari pasukan salib. Misalnya, ia masih belum bereaksi saat Raynald of Chatillon mengusik aktivitas perdagangan dan perjalanan ibadah haji di Laut Merah, wilayah yang menurut Saladin harus selalu menjadi wilayah bebas. Puncaknya adalah saat penyerangan terhadap rombongan karavan jamaah haji tahun 1185. Saladin meradang.

Juli 1187, Saladin menyerang Kerajaan Jerusalem dan terlibat dalam pertempuran Hattin. Ia berhasil mengeksekusi Raynald dan rajanya, Guy of Lusignan. Dia kembali ke Jerusalem 2 Oktober 1187, 88 tahun setelah kaum Salib berkuasa. Berbagai medan pertempuran dilaluinya, dengan satu pesan yang sama kepada pasukannya; minimalkan pertumpahan darah, jangan melukai wanita dan anak-anak. Perang Salib III menelan biaya yang tak sedikit dari kubu Kristen. Inggris mengucurkan dana bantuan yang dikenal dengan istilah ‘Saladin Tithe’ (Zakat melawan Saladin). Dalam satu pertempuran, ia berhadap-hadapan dengan King Richard I dari Inggris di medan perang Arsuf tahun 1191. Di luar perkiraan kedua pasukan, Saladin dan King Richard I saling berjabat tangan dan menghormat satu sama lain. Bahkan saat tahu pimpinan pasukan musuhnya itu sakit, Saladin menawarkan bantuan seorang dokter terbaik yang dimiliki Damaskus. Begitu juga saat tahu Richard kehilangan kuda tunggangannya, ia memberikan dua ekor sebagai gantinya. Di medan itu, keduanya sepakat berdamai. Bahkan adik Richard dinikahkan dengan saudara Saladin.

Tak lama setelah kepergian Richard, Saladin wafat pada tahun 1193 di Damaskus. Saat kotak penyimpanan harta Saladin dibuka, ahli warisnya tidak menemukan cukup uang untuk membiayai pemakamanannya: ia selalu mendermakan hartanya kepada kaum yang membutuhkan. Kini makamnya menjadi salah satu tempat tujuan wisata utama di Suriah. Nama Saladin harum di seantero dunia hingga kini. Bukan hanya kalangan Muslim, kalangan non-Muslim juga sangat menghormatinya. Satu yang dicatat dalam buku-buku sejarah: ketika pasukan Salib menyembelih semua Muslimin yang ditemui saat mereka menaklukkan Jerusalem, Saladin memberikan amnesti dan kebebasan bagi kaum Katolik Roma begitu ia menaklukkan Jerusalem.

Sultan Saladin
1138: Lahir di Tikrit, Irak, sebagai putra dari pimpinan kaum Kurdi, Ayub.
1152: Mulai pekerja sebagai pelayan pimpinan Suriah, Nureddin.
1164: Mulai menunjukkan pekiawaiannya dalam bidang strategi militer dan dalam perang melawan pasukan Salib di Palestina.
1169: Saladin menjadi orang kedua dalam kepemimpinan militer Suriah setelah pamannya, Shirkuh. Shirkuh menjadi wakil di Mesir namun meninggal 2 bulan kemudian. Ia menggantikannya. Namun karena kurang ada respons dan dukungan dari penguasa, ia kembali ke Kairo yang menjadi puas kekuatan Dinasti Ayyub.
1171: Saladin menekan penguasa Fatimi dan menjadi pemimpin Mesir dengan dukungan kekhalifahan Abbasiah. Namun tidak seperti Nureddin yang ingin sesegera menggempur pasukan Kristen, ia cenderung lebih menahan diri. Inilah yang membuat hubungan antar keduanya merenggang.
1174: Nureddin meninggal. Saladin menyususn kekuatan.
1175: The Syrian Assassin leader Rashideddin’ s men made two attempts on the life of Saladin, the leader of the Ayyubids. The second time, the Assassin came so close that wounds were infliceted upon Saladin.
1176: Saladin besieges the fortress of Masyaf, the stronghold of Rashideddin. After some weeks, Saladin suddenly withdraws, and leaves the Assassins in peace for the rest of his life. It is believed that he was exposed to a threat of having his entire family murdered.
1183: Penaklukan kota di utara Suriah, Aleppo.
1186: Penaklukan Mosul di utara Irak.
1187: Dengan kekuatan baru, menyerang Kerajaan Latin Jerusalem dengan pertempuran sengit selama 3 bulan.
1189: Perang Salib III meluas di Palestina setelah Jerusalem di bawah kontrol Saladin. (Lihat Film Versi Hollywood : Kingdom of Heaven)
1192: Menandatangani perjanjian dengan King Richard I dari Inggris yang membagi wilayah pesisir untuk Kaum Kristen dan Jerusalem untuk Kaum Muslim.
4 Maret 1193: Meninggal di Damaskus tidak lama setelah jatuh sakit.

Sumber : http://saladinmania.wordpress.com/

Tokoh Katalis Kebangkitan Islam: Salahuddin Al-Ayyubi

Tokoh Saladin yang dipernakan oleh Ghassan Massoud pada "Kingdom of Heaven"

Sebelum melihat dengan baik siapa Saladin ini mari kita sama-sama menghaturkan sedekah al-Fatihah untuknya dan semoga satu hari nanti lahir seorang lagi Saladin baru untuk menyelamatkan kembali Palestina khususnya dan Islam pada umumnya. Amin.

Baru-baru ini, industri film barat telah berjaya memaparkan sebuah film bertajuk “The Kingdom of Heaven” yang menampilkan Orlando Bloom sebagai Balian of Ibelin. Sekalipun telah mendapat kritikan dahsyat dari sebagian besar masyarakat barat, film yang telah berjaya di peringkat “Box Office” ini merupakan satu-satunya film yang telah mengimbangi kedudukan Islam di tengah-tengah konflik Israel-Palestina dan kekeliruan di kalangan masyarakat antara bangsa mengenai Islam.

Film tersebut juga telah membuat generasi muda Melayu terpegun dengan kehebatan dan kemulian Salahuddin Al-Ayubi sebagai salah seorang tokoh Kebangkitan Islam.

Salahuddin Sebagai Tokoh Katalis Kebangkitan Islam

Salahuddin dibesarkan sama seperti anak-anak orang Kurdis biasa. Pendidikannya juga seperti orang lain, belajar ilmu-ilmu sains di samping seni peperangan dan mempertahankan diri. Tiada seorang pun yang menyangka sebelum dia menguasai Mesir dan menentang tentara Salib bahawa anak Kurdis ini suatu hari nanti akan merebut kembali Palestina dan menjadi pembela akidah Islamiah yang hebat. Dan tiada yang menyangka pencapaiannya sedemikian hebat sehingga menjadi contoh dalam memerangi kekufuran hingga hari ini.

Stanley Lane Poole (1914) seorang penulis Barat menyifatkan Salahuddin sebagai anak seorang gubernur yang memilliki kelebihan daripada orang lain tetapi tidak menunjukkan satu pun tanda-tanda dia akan menjadi orang hebat di masa depan. Akan tetapi dia menunjukkan akhlak yang mulia.

Walau bagaimanapun Allah telah menakdirkannya untuk menjadi pemimpin besar pada zamannya dan Allah telah menyediakan dan memudahkan jalan-jalannya untuk menjadi pemimpin agung itu. Ketika dia menjadi tentara Al-Malik Nuruddin, Sultan Aleppo, dia diperintahkan untuk pergi ke Mesir.

Pada masa itu Mesir diperintah oleh sebuah kerajaan Syi’ah yang tidak bernaung di bawah khalifah. Bahauddin bin Shaddad, penasihat utama Salahuddin telah menulis bahawa Salahuddin sangat berat dan memaksa diri untuk pergi ke Mesir bagaikan orang yang hendak di bawa ke tempat pembunuhan (Bahauddin, 1234).

Tetapi itulah sebenarnya apa yang dimaksudkan dengan firman Allah, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu” (Al-Baqarah:216)

Pertukaran Hidup Salahuddin Al-Ayubi

Ketika Salahuddin menguasai Mesir, dia tiba-tiba berubah. Dia yakin bahwa Allah telah mempertanggungjawabkan kepadanya satu tugas yang amat berat yang tak mungkin dapat dilaksanakan jika dia tidak bersungguh-sungguh. Bahauddin telah menuliskan dalam catatannya bahwa Salahuddin memerintah Mesir dengan sebaik-baiknya. Dunia dan kesenangannya telah lenyap dari pandangan matanya. Dengan hati yang rendah dan syukur kepada Allah dia telah menolak godaan-godaan dunia dan segala kesenangannya (Bahauddin,1234).

Bahkan Stanley Lane Poole (1914) telah menulis bahawa Salahuddin mengubah cara hidupnya ke hal-hal yang lebih keras. Dia bertambah wara’ dan menjalani hidup yang lebih berdisiplin dan sederhana. Dia mengesampingkan corak hidup yang penuh kesenangan dan memilih corak hidup “Spartan” yang menjadi contoh kepada tentaranya. Dia mencurahkan seluruh tenaganya untuk satu tujuan yaitu untuk membina kekuasaan Islam yang cukup kuat untuk menghalau orang kafir dari tanah air Islam.

Salahuddin pernah berkata, “Ketika Allah menganugerahkan aku bumi Mesir, aku yakin Dia juga bermaksud menganugrahkan Palestina untukku.” Ini menyebabkan dia memenangkan perjuangan Islam. Sehubungan dengan dia telah menyerahkan dirinya untuk jalan jihad.

Semangat Jihad Salahuddin Al-Ayubi

Fikiran Salahuddin sentiasa tertumpu kepada jihad di jalan Allah. Bahauddin telah mencatatkan bahawa semangat Salahuddin yang berkobar-kobar untuk berjihad menentang tentara Salib telah menyebabkan jihad menjadi tajuk perbincangan yang paling digemarinya. Dia sentiasa meluangkan seluruh tenaganya untuk memperkuat pasukan tentaranya, mencari mujahid-mujahid dan senjata untuk tujuan berjihad.

Jika ada siapa pun yang berbicara kepadanya berkenaan jihad dia akan memberikan sepenuh perhatian. Sehubungan dengan ini dia lebih banyak di dalam khemah perang daripada duduk di istana bersama sanak keluarga. Siapa saja yang menggalakan jihad akan mendapat kepercayaannya. Siapa saja yang memerhatikannya akan dapat melihat apabila dia telah memuliakan jihad melawan tentara Salib (dikenal dengan istilah Crusaders) dia akan menumpahkan seluruh perhatiannya pada persiapan perang dan menaikkan semangat tentaranya.

Dalam medan peperangan dia bagaikan seorang ibu yang garang kehilangan anak tunggal akibat dibunuh oleh tangan jahat. Dia akan bergerak dari satu ujung medan peperangan ke ujung lainnya untuk mengingatkan tentaranya supaya benar-benar berjihad di jalan Allah semata-mata. Dia juga akan pergi ke seluruh pelosok tanah air dengan mata yang berlinang air mata ketika mengajak manusia supaya bangkit membela Islam.

Ketika dia mengepung Acre dia hanya minum, itu pun selepas dipaksa oleh dokter peribadinya tanpa makan. Dokter itu berkata bahawa Salahuddin hanya makan beberapa suap makanan semenjak hari Jumaat hingga Senin karena dia tidak mau perhatiannya kepada peperangan terganggu. (Bahauddin, 1234)

Peperangan Salib di Hittin

Perang Hittin: Titik balik jatuhnya Yerusalem ke tangan Islam pada 583H

Satu saat peperangan yang sengit terjadi antara tentara Salahuddin dengan tentara Salib di kawasan Tiberias di kaki bukit Hittin. Akhirnya pada 24 Rabiul-Akhir, 583 H, tentara Salib kalah. Dalam peperangan ini Raja Kristen yang memerintah Palestina telah ditawan beserta adiknya Reginald dari Chatillon. Pembesar-pembesar lain yang dapat ditawan ialah Joscelin dari Courtenay, Humphrey dari Toron dan beberapa orang ternama yang lain. Banyak pula tentara-tentara Salib berpangkat tinggi telah tertawan. Stanley Lane-Poole menceritakan bahawa dapat dilihat seorang tentara Islam telah membawa 30 orang tentara Kristen yang ditawannya sendiri diikat dengan tali kemah.

Mayat-mayat tentera Kristian bertimbun-timbun seperti batu di atas batu di antara salib-salib yang patah, potongan tangan dan kaki dan kepala-kepala manusia berguling seperti buah tembikai. Diperkirakan 30,000 tentara Kristen tewas dalam peperangan ini. Setahun selepas peperangan, timbunan tulang dapat dilihat memutih dari jauh.

Kecintaan Salahuddin Al-Ayubi kepada Islam

Peperangan Hittin telah melengkapi kecintaan Salahuddin kepada Islam. Stanley Lane-Poole menulis bahawa Salahuddin berkemah di medan peperangan saat peperanggan Hittin. Pada satu ketika setelah kemahnya didirikan diperintahkannya tawanan perang dibawa ke hadapannya. Maka dibawalah Raja Palestina dan Reginald dari Chatillon masuk ke kemahnya. Dipersilakan sang Raja duduk di dekatnya.

Kemudian dia bangun pergi ke hadapan Reginald lalu berkata, “Dua kali aku telah bersumpah untuk membunuhnya. Pertama ketika dia bersumpah akan melanggar dua kota suci dan kedua ketika dia menyerang jamaah haji. Ketahuilah aku akan menuntut bela Muhammad SAW atasnya”. Lalu dia menghunuskan pedangnya dan memenggal kepala Reginald. Mayatnya kemudian dibawa keluar oleh pengawal dari kemah.

Raja Palestina ketika melihat adiknya dipancung, dia gemetar karena menyangka gilirannya akan tiba. Tetapi Salahuddin menjamin tidak akan mengapa-apakannya sambil berkata, “Bukanlah kelaziman seorang raja membunuh raja yang lain, tetapi orang itu telah melanggar segala batas-batas, jadi terjadilah apa yang telah terjadi”.

Tindakan Salahuddin adalah disebabkan kebiadaban Reginald kepada Islam dan Nabi Muhammad S.A.W. Bahauddin bin Shaddad, penasihat kepercayaan Salahuddin mencatat ketika jamaah haji dari Palestina diserang dianiaya tanpa belas kasihan oleh Reginald, di antara tawanannya mengiba-iba supaya mereka dikasihani. Tetapi Reginald dengan angkuhnya mengatakan, “Mintalah kepada Nabi kamu, Muhammad, untuk menyelematkan kamu”. Ketika dia mendengar berita ini dia telah berjanji akan membunuh Reginald dengan tangannya sendiri apabila dia dapat menangkapnya.

Salahuddin Menawan Baitul Muqaddis

Kemenangan peperangan Hittin telah membuka jalan mudah bagi Salahuddin untuk menaklukan Baitul Muqaddis. Bahauddin telah mencatat bahawa Salahuddin sangat-sangat berniat untuk menaklukan Baitul Muqaddis hingga bukit pun akan menjadi bagian kecil yang membebani hatinya. Pada hari Jumaat, 27 Rajab, 583H, yaitu pada hari Isra’ Mi’raj, Salahuddin telah memasuki lapangan suci tempat Rasulullah S.A.W. naik ke langit.

Dalam catatan Bahauddin dia menyatakan inilah kemenangan atas kemenangan. Ramai orang yang terdiri dari ulama, pembesar-pembesar, pedagang dan orang-orang biasa datang merayakan gembira kemenangan ini. Kemudiannya ramai lagi orang datang dari pantai dan hampir semua ulama-ulama dari Mesir dan Syria datang untuk mengucapkan selamat kepada Salahuddin. Boleh dikatakan hampir semua pembesar-pembesar datang. Gema “Allahhu Akbar” dan “Tiada tuhan melainkan Allah” telah memenuhi langit.

Setelah 90 tahun silam, saat itu shalat Jumaat telah dapat diadakan lagi di Baitul Muqaddid. Salib yang terpampang di ‘Dome of Rock’ telah diturunkan. Betapa hebatnya peristiwa ini tidak dapat digambarkan. Hanya Allah saja yang tahu betapa hebatnya hari itu.

Salahuddin yang Penyayang

Sifat penyayang dan belas kasihan Salahuddin semasa peperangan ini sangat jauh berbeda daripada kekejaman musuh Kristennya. Ahli sejarah Kristen pun mengakui hal ini. Lane-Poole mengesahkan bahwa kebaikan hati Salahuddin telah mencegahnya dari membalas dendam. Dia telah menuliskan bahwa Salahuddin telah menunjukkan ketinggian akhlaknya ketika orang-orang Kristen menyerah kalah. Tenteranya sangat bertanggung jawab, menjaga peraturan di setiap jalan, mencegah segala bentuk kekerasan hingga tidak terdengar orang-orang Kristen diperlakukan tidak baik.

Semua jalan keluar-masuk ke Baitul Muqaddis ditangannya dan seorang yang amanah telah dilantik di pintu Nabi Daud untuk menerima uang tebusan dari orang-orang Kristen yang ditawan. Lane-Poole juga telah menuliskan bahwa Salahuddin telah mengatakan kepada pegawainya, “Adikku telah memberikan infak, Padri besar pun telah menderma. Sekarang giliranku pula”. Lalu dia memerintahkan pegawainya mengumumkan di jalan-jalan Jerusalem bahawa siapa pun yang tidak mampu membayar tebusan boleh dibebaskan. Maka begitu ramailah orang berbondong-bondong keluar dari pintu St. Lazarus dari pagi hingga ke malam. Ini merupakan sedekah Salahuddin kepada orang miskin tanpa menghitung harga tebusan mereka.

Selanjutnya Lane-Poole menuliskan bagaimana pula tindak-tanduk tentara Kristen ketika menaklukan Baitul Muqaddis kali pertama pada tahun 1099. Telah tercatat dalam sejarah bahawa ketika Godfrey dan Tancred menunggang kuda di jalan-jalan Jerusalem jalan-jalan itu ‘tersumbat’ dengan mayat-mayat, orang-orang Islam yang tidak bersenjata disiksa, dibakar dan dipanah dari jarak dekat di atas cerobong dan menara rumah-rumah ibadah. Darah yang membasahi bumi yang mengalir dari pembunuhan orang-orang Islam secara beramai-ramai telah mencemarkan kesucian gereja di mana sebelumnya kasih sayang sentiasa diajarkan. Maka sangat bernasib baik orang-orang Kristen apabila mereka dilayani dengan baik oleh Salahuddin.

Lane-Poole juga menuliskan, jika hanya penaklukan Jerusalem saja yang diketahui mengenai Salahuddin, maka dia sudah cukup membuktikan dialah seorang penakluk yang paling penyantun dan baik hati di zamannya bahkan mungkin di sepanjang zaman.

Perang Salib Ketiga

Perang Salib pertama ialah kejatuhan Palestina kepada orang-orang Kristen pada tahun 1099 (490H) sementara yang kedua telah dimenangi oleh Salahuddin dalam peperangan Hittin pada tahun 583H (1187M) di mana beberapa hari kemudian dia telah menguasai Baitul Muqaddis tanpa perlawanan. Kekalahan tentara Kristen ini telah menggemparkan seluruh dunia Kristen Barat. Maka bantuan dari Eropa telah kerahkan ke bumi Palestina.

Hampir semua raja dan panglima perang dari dunia Kristen seperti Fredrick Barbossa Raja Jerman, Richard The Lionheart RajaInggris, Philips Augustus Raja Perancis, Leopold dari Austria, Duke of Burgundy dan Count of Flanders telah bersekutu menyerang Salahuddin yang hanya dibantu oleh beberapa pembesarnya dan saudara sepupunya serta tentaranya untuk mempertahankan kehormatan Islam. Berkat pertolongan Allah mereka tidak dapat dikalahkan oleh tentara yang bersekutu sebesar itu.

Peperangan ini berlanjutan selama 5 tahun hingga menyebabkan kedua belah pihak menjadi letih dan jemu. Akhirnya kedua belah pihak setuju untuk membuat perjanjian di Ramala pada tahun 588H. Perjanjian ini mengakui Salahuddin adalah penguasa Palestina seluruhnya kecuali wilayah Acra terletak di bawah pemerintahan Kristen. Maka berakhirlah peperangan Salib ketiga.

Lane-Poole mencatat perjanjian ini sebagai berakhirnya Perang Suci yang telah berlajut selama 5 tahun. Sebelum kemenangan besar Hittin pada bulan Julai, 1187 M, tak satu inci pun tanah Palestina berada di tangan orang-orang Islam. Selepas Perjanjian Ramala pada bulan September, 1192 M, keseluruhannya menjadi milik mereka kecuali satu jalur kecil dari Tyre ke Jaffa. Salahuddin tidak merasa malu dengan perjanjian ini walaupun sebagian kecil tanah Palestina masih di tangan orang-orang Kristian.

Atas seruan Pope, seluruh dunia Kristen telah mengangkat senjata. Raja Inggris, Perancis, Sicily dan Austria serta Duke of Burgundy, Count of Flanders dan beratus-ratus lagi pembesar-pembesar telah bersekutu membantu Raja dan Putra Mahkota Palestina untuk mengembalikan kerajaan Jerusalem kepada pemerintahan Kristen. Walau bagaimanapun ada raja yang mati dan ada yang datang dan sebagian pembesar-pembesar Kristen telah terkubur di Tanah Suci itu, tetapi Tanah Suci itu masih di dalam tangan Salahuddin.

Selanjutnya Lane-Poole mencatatkan, seluruh kekuatan dunia Kriten yang telah ditumpukan dalam peperangan Salib ketiga tidak mengoyahkan kekuatan Salahuddin. Tentaranya mungkin telah jemu dengan peperangan yang menyusahkan itu tetapi mereka tidak pernah mundur apabila diseru untuk mempertaruhkan jiwa raga mereka di jalan Tuhan. Tentaranya yang berada jauh di lembah Tigris di Irak mengeluh dengan tugas yang tiada henti-hentinya, tetapi ketaatan mereka tidak pernah terbagi lagi.

Bahkan dalam peperangan Arsuf, tentaranya dari Mosil (sebuah tempat di Iraq) telah menunjukkan ketangkasan yang hebat. Dalam peperangan ini, Salahuddin memang dapat memberikan kepercayaan kepada tentara-tentaranya dari Mesir, Mesopotamia, Syria, Kurds, Turkmans, tanah Arab dan bahkan orang-orang Islam dari mana-mana saja. Walaupun mereka berlainan bangsa dan kaum tetapi Salahuddin telah dapat menyatukan mereka di atas jalan Tuhan mulai peperangan pada tahun 1187 hingga berakhirnya pada tahun 1192.

Lane-Poole juga menuliskan dalam peperangan ini Salahuddin sentiasa bermusyawarah. Dia mempunyai majelis syura (musyawarah) yang membuat keputusan-keputusan ketentaraan. Kadang-kadang majelis ini membatalkan keputusan Salahuddin sendiri. Dalam majelis ini tak seorang pun yang mempunyai suara lebih berat yang lebih mempengaruhi fikiran Salahuddin. Semuanya sama saja. Dalam majelis itu ada adiknya, anak-anaknya, anak saudaranya, sahabat-sahabat lamanya, pembesar-pembesar tentara, kadi, bendahara dan setiausaha. Semuanya mempunyai sumbangan yang sama banyak dalam membuat keputusan. Pendeknya semuanya menyumbang dalam kepakaran masing-masing. Walau apa pun perbincangan dan perdebatan dalam majelis itu, mereka tetap taat kepada Salahuddin.

Kematian Salahuddin Al-Ayubi

Pada hari Rabu, 27 Safar, 589H, pulanglah Salahuddin ke rahmatullah stelah bersusah payah mengembalikan tanah air Islam pada usia 57 tahun. Bahauddin bin Shaddad, penasihat utama Salahuddin telah menulis mengenai hari-hari terakhir Salahuddin. Pada malam 27 Safar, 12 hari selepas dia jatuh sakit, dia menjadi sangat lemah. Syeikh Abu Ja’afar seorang yang taat beragama telah diminta menemani Salahuddin di Istana supaya jika dia sedang menghadapi sakaratul maut, bacaan Qur’an dan syahadah dapat diperdengarkan kepadanya.

Memang pada malam itu telah nampak tanda-tanda berakhirnya hayat Salahuddin. Syeikh Abu Jaafar telah duduk di tepi katilnya semenjak 3 hari yang lepas membacakan Qur’an. Pada saat itu Salahuddin selalu pingsan dan sadar sebentar. Apabila Syeikh Abu Jaafar membacakan ayat, “Dialah Allah, tiada tuhan melainkan Dia, Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata” (Al-Hasyr: 22), Salahuddin membuka matanya sambil senyum, mukanya berseri dan denga nada yang gembira dia berkata, “Memang benar”. Selepas dia mengucapkan kata-kata itu rohnya pun kembali ke rahmatullah. Saat itu adalah sebelum subuh, 27 Safar.

Seterusnya Bahauddin menceritakan Salahuddin tidak meninggalkan harta kecuali satu dinar dan 47 dirham ketika dia wafat. Tiada rumah-rumah, barang-barang, tanah, kebun dan harta-harta lain yang ditinggalkannya. Bahkan harta yang ditinggalkannya tidak cukup untuk upah mengebumikannya. Keluarganya terpaksa meminjam uang untuk menanggung upah pemakaman ini. Bahkan kain kafan pun diberikan oleh seorang menterinya.

Salahuddin yang Taat Beragama

Bahauddin bin Shaddad, penasihat utama Salahuddin mencatatkan tentang ketaatan Salahuddin. Satu hari dia berkata bahwa dia telah lama tidak pergi sembahyang berjemaah. Dia memang suka sembahyang berjemaah, bahkan ketika sakitnya dia akan memaksa dirinya berdiri di belakang imam. Disebabkan sembahyang adalah ibadah utama yang ditetapkan oleh Rasulullah S.A.W., dia sentiasa mengerjakan sembahyang sunnat malam. Jika ada hal lain yang menyebabkannya tidak dapat sembahyang malam, dia akan menunaikannya ketika hampir subuh. Bahauddin melihatnya sentiasa sembahyang di belakang imam ketika sakitnya, kecuali tiga hari terakhir di mana dia telah sangat lemah dan selalu pingsan.

Tetapi dia tidak pernah tinggal sembahyang fardhu. Dia tidak pernah membayar zakat kerana dia tidak mempunyai harta yang cukup nisab. Dia sangat murah hati dan akan menyedekahkah apa yang ada padanya kepada fakir miskin dan kepada yang memerlukan hinggakan ketika wafatnya dia hanya memiliki 47 dirham uang perak dan satu dinar uang emas. Dia tidak meninggalkan harta.

Bahauddin juga mencatat bahawa Salahuddin tidak pernah meninggalkan puasa Ramadhan kecuali hanya sekali karena dinasihatkan oleh Kadi Fadhil. Ketika sakitnya pun dia berpuasa hingga dokter menasihatkannya dengan tegas supaya berbuka. Lalu dia berbuka dengan hati yang berat sambil berkata, “Aku tak tahu bila ajal akan menemuiku”. Maka segera dia membayar fidyah.

Dalam catatan Bahauddin juga menunjukkan Salahuddin sangat ingin menunaikan haji ke Mekah tetapi dia tidak pernah berkesempatan. Pada tahun wafatannya, keinginannya menunaikan haji telah menjadi-jadi tetapi takdir berkehendak lain. Dia sangat gemar mendengar bacaan Al-Qur’an. Dalam medan peperangan dia acap kali duduk mendengar bacaan Qur’an para pengawal yang dikunjunginya hingga 3 atau 4 juz’ semalam. Dia mendengar dengan sepenuh hati dan perhatian sehingga air matanya membasahi dagunya. Dia juga gemar mendengar bacaan hadis Rasulullah S.A.W. Dia akan memerintahkan orang-orang yang bersamanya duduk apabila hadist dibacakan. Apabila ulama hadist datang, dia akan pergi mendengar kuliahnya. Kadang kadang dia sendiri membacakan hadis dengan mata yang berlinang. Dalam peperangan kadang-kadang dia berhenti di antara musuh-musuh yang datang untuk mendengarkan hadis-hadis dibacakan kepadanya.

Salahuddin sangat yakin dan percaya kepada pertolongan Allah. Dia biasa meletakkan segala harapannya kepada Allah terutama ketika dalam kesusahan. Pada satu ketika dia berada di Jerusalem yang pada saat itu seolah-olah tidak dapat bertahan lagi dari kepungan tentara sekutu Kristen. Walaupun keadaan sangat mendesak dia enggan untuk meninggalkan kota suci itu. Malam itu adalah malam Jumaat musim dingin. Bahaauddin mencatat, “Hanya aku dan Salahuddin saja pada saat itu. Dia menghabiskan waktu malam itu dengan bersembahyang dan munajat.

Pada tengah malam saya minta supaya dia beristirahat tetapi jawabnya, “Ku fikir kau mengantuk. Pergilah tidur sejenak”. Saat hampir subuh aku pun bangun dan pergi mendapatkannya. Aku dapati dia sedang membasuh tangannya. “Aku tidak tidur semalam” katanya. Selepas sembahyang subuh aku berkata kepadanya, “Kau bermunajat kepada Allah memohon pertolongan-Nya”. Lalu dia bertanya, “Apa yang perlu ku lakukan?”

Aku menjawab, hari ini hari Jumaat. Engkau mandilah sebelum pergi ke masjid Aqsa. Keluarkanlah infaq dengan diam-diam. Apabila kau tiba di masjid, sembahyanglah dua rakaat selepas azan di tempat Rasulullah S.A.W. pernah sembahyang sebelum mi’raj dahulu. Aku pernah membaca hadis doa yang dibuat di tempat itu adalah mustajab. Oleh karena itu kau bermunajatlah kepada Allah dengan ucapan “Ya Tuhanku, aku telah kehabisan segala perbekalanku. Kini aku mohon pertolongan-Mu. Aku menyerahkan diriku kepada-Mu. Aku yakin hanya Engkau saja yang dapat menolongku dalam keadaan yang genting ini”

Aku berkata kepadanya, “Aku sangat berharap Allah akan mengkabulkan doamu”. Lalu Salahuddin melakukan apa yang ku usulkan. Aku berada di sebelahnya ketika dahinya mencecah bumi sambil menangis hingga air matanya mambasahi janggutnya dan menitik ke tempat sembahyang. Aku tidak tahu apa yang didoakannya tetapi aku melihat tanda-tanda doanya dikabulkan sebelum hari itu berakhir. Perpecahan terjadi di antara musuh-musuh yang menyebabkan berita baik bagi kami beberapa hari kemudian. Akhirnya mereka membuka kemah-kemah mereka dan berangkat ke Ramala pada hari Senin pagi”

Tingkah-laku Salahuddin Al-Ayubi

Siapa yang dekat dengannya mengatakan dia adalah seorang Islam yang taat kepada Allah, sangat peka kepada keadilan, pemurah, lembut hati, sabar dan tekun. Bahauddin bin Shaddad, penasihat utama Salahuddin telah mencatat bahwa dia telah memberikan waktu untuk rakyat dua kali seminggu, yaitu pada hari Senin dan Selasa. Pada waktu tersebut ia disertai oleh pembesar-pembesar negara, ulama dan kadi. Semua orang dapat berjumpa dengannya. Dia sendiri akan membacakan pengaduan yang diterimanya dan mengucapkan untuk dituliskan oleh juru tulis tindakan yang perlu diambil dan terus ditandatanganinya pada saat itu juga. Dia tidak pernah membenarkan orang meninggalkannya selagi dia belum menyempurnakan maksud orang itu. Dalam saat yang sama dia sentiasa bertasbih kepada Allah.

Jika ada orang membuat pengaduan, dia akan mendengarkan dengan teliti dan kemudian memberikan keputusannya. Suatu hari seorang lelaki telah membuat pengaduan berkenaan Taqiuddin, anak saudaranya sendiri. Dengan segera dia memanggil anak saudaranya itu dan meminta penjelasan. Pada saat yang lain ada orang yang membuat tuduhan kepada Salahuddin sendiri. Yang memerlukan penyiasatan. Walaupun tuduhan orang itu didapati tidak beralasan, dia telah menghadiahkan orang itu sehelai jubah dan beberapa pemberian yang lain.

Dia adalah seorang yang mulia dan baik hati, lemah lembut, penyabar dan sangat benci ketidakadilan. Dia sentiasa mengabaikan kekhilafan-kekhilafan para pembantu dan khadamnya. Jika mereka melakukan kesalahan yang memanaskan hatinya, dia tidak pernah menyebabkan kemarahannya menjatuhkan air muka mereka. Pada suatu ketika dia pernah meminta air minum, tetapi entah apa sebabnya air itu tidak diberikan kepadanya. Dia meminta sehingga lima kali lalu berkata, “Aku hampir mati kehausan”. Dia kemudian meminum air yang dibawakan kepadanya tanpa menunjukkan kemarahan.

Pada yang lain dia hendak mandi selepas mengalami sakit yang agak lama. Didapatinya air yang disediakan agak panas, lalu dia meminta air dingin. Sebanyak dua kali khadamnya menyebabkan air dingin itu terpercik kepadanya. Disebabkan dia belum benar-benar sehat, dia merasa kedinginan tetapi dia hanya berkata kepada khadamnya, “Katakan sajalah kalau kau tak suka kepadaku”. Lalu khadam itu cepat-cepat minta maaf dan Salahuddin terus memaafkannya.

Bahauddin juga telah mencatatkan beberapa peristiwa yang menunjukkan sifat pemurah dan baik hati Salahuddin. Kadang-kadang kawasan yang baru dikuasainya pun diberikannya kepada pengikutnya. Satu ketika dia telah berjaya menawan bandar ‘Amad. Lalu seorang perwira tentara, Qurrah Arslan, menyatakan keinginannya untuk memerintah bandar itu. Dengan senang hati dia memberikannya. Bahkan beberapa kali dia menjualkan hartanya semata-mata untuk membeli hadiah. Melihat betapa pemurahnya Salahuddin, bendaharanya selalu merahasiakan baki uang simpanan untuk digunakan pada masa darurat.

Jika dia tahu, dia akan menyedekahkan kekayaan negara hingga habis. Salahuddin pernah mengatakan bahwa baginya uang dan debu sama saja. “Aku tahu”, kata Bahauddin, “Dia mengatakan dirinya”. Salahuddin tidak pernah membiarkan tamunya meninggalkannya tanpa hadiah atau barang bentuk pemberian tanda penghargaan, walaupun tamunya itu seorang kafir. Raja Saida pernah melawat Salahuddin dan dia menyambutnya dengan tangan terbuka, melayaninya dengan hormat dan mengambil kesempatan menerangkan Islam. Bahkan Salahuddin sentiasa mengirimkan es dan buah-buahan kepada Richard the Lionheart, musuh beratnya, ketika Raja Inggris itu jatuh sakit.

Hatinya memang sangat lembut hingga dia sangat mudah tersentuh apabila melihat orang lain dalam kesusahan dan kesedihan. Suatu hari seorang perempuan Kristen datang mengadu kehilangan bayinya. Perempuan itu menangis dan meraung di depan Salahuddin sambil menceritakan bayinya dicuri dari kemahnya. Perempuan itu seterusnya mengatakan dia telah diberitahu bahwa hanya Salahuddin saja yang bisa mendapatkan bayi itu kembali. Hatinya tersentuh mendengar cerita perempuan itu lalu dia pun turut menangis. Dia segera memerintahkan pegawai-pegawainya mencari bayi itu di pasar hamba-sahaya. Tidak lama kemudian bayi itu telah dapat dibawa kembali lalu dengan rasa gembira mendoakan kesejahteraan Salahuddin.

Bahauddin juga mencatat Salahuddin sangat belas kasihan kepada anak-anak yatim. Bila dia berjumpa anak-anak yatim dia akan mengusahakan supaya ada orang yang menjadi penjaga anak itu. Kadang-kadang dia sendiri yang akan menjaga dan membesarkan anak yatim yang ditemuinya. Dia juga sangat kasihan melihat orang tua atau yang berkurangan dan akan memberikan penjagaan yang khas kepada mereka apabila dia bertemu dengan orang seperti itu.

Kesungguhan dan Semangat Sallahuddin Al-Ayubi

Ketika mengepung negeri Acre, Bahauddin mencatat bahawa Salahuddin mengidap sakit berat yang menyebabkan beliau sangat susah untuk bangun. Meskipun demikian, dia keluar menunggang kudanya untuk memeriksa angkatan tentaranya. Bahauddin bertanya kepadanya bagaimana dia bisa menahan sakitnya. Maka Salahuddin menjawab, “Penyakit akan meninggalkanku apabila kamu menunggang kuda”.

Pada saat yang lain dia sebenarnya dalam keadaan yang lemah akibat sakit tetapi dia pergi memburu musuh sepanjang malam. “Apabila dia sakit”, kata Bahauddin,” Aku dan dokter akan bersamanya sepanjang malam. Dia tidak dapat tidur akibat menahan sakit, tetapi apabila pagi menjelang, dia akan menunggang kuda untuk melawan musuh. Dia mengantar anak-anaknya ke medan perang sebelum memerintahkan orang lain berbuat demikian. Aku dan dokternya bersamanya sepanjang hari menunggang kuda hingga musuh mundur apabila senja menjelang. Dia hanya akan kembali ke kemah selepas memberikan arahan untuk penjagaan malam”.

Dalam kesungguhan, semangat dan ketahanan rasanya tak ada yang dapat menandingi Salahuddin. Kadang-kadang dia sediri pergi ke kawasan perkemahan tentara musuh bersama para pengintainya sekali bahkan dua kali sehari. Ketika berperang dia sendiri akan pergi menempuh celah-celah tentara musuh yang sedang marah. Dia sentiasa mengadakan pemeriksaan pada setiap tentaranya dan memberikan arahan kepada panglima-panglima tentaranya. Bahauddin mencatatkan satu kisah yang menunjukkan betapa beraninya Salahuddin.

Salahuddin diberitahu bahwa dia selalu mendengar bacaan hadis pada masa lapang bukannya ketika perang. Apabila mendengar hal ini dia segera mengarahkan supaya hadis-hadis dibacakan kepadanya ketika peperangan sedang berkecamuk dengan sengitnya.

Salahuddin tidak pernah gentar dengan ramainya tentara Salib yang datang untuk menentangnya. Dalam beberapa saat, tentara Salib berjumah sekitar 600,000 orang, tetapi Salahuddin menghadapinya dengan tentara yang jauh lebih sedikit. Berkat pertolongan Allah dia menang, membunuh banyak musuh dan membawa banyak tawanan.

Ketika mengepung Acre, pada satu petang lebih dari 70 kapal tentara musuh beserta senjata berat mendarat pada satu petang. Boleh dikatakan semua orang merasa gentar kecuali Salahuddin. Dalam satu peperangan yang sengit pada saat kepungan ini, serangan mendadak besar-besaran dari musuh itu telah menyebabkan tentara Islam kalang kabut. Tentara musuh telah mencapai kemah-kemah tentara Islam bahkan telah sampai ke kemah Salahuddin dan mencabut benderanya. Tetapi Salahuddin bertahan dengan teguhnya dan berjaya mengatur tentaranya kembali sehingga dia berjaya membalikkan kekalahan menjadi kemenangan. Musuh telah kalah dan mundur meninggalkan lebih kurang 7,000 mayat-mayat.

Bahauddin mencatat betapa besarnya cita-cita Salahuddin. Suatu hari Salahuddin pernah berkata kepadanya, “Aku hendak memberi tahu kamu apa yang ada dalam hatiku. Apabila Allah mentakdirkan seluruh tanah suci ini di bawah kekuasaanku, aku akan serahkan tanah-tanah kekuasaanku ini kepada anak-anakku, ku berikan arahan-arahanku yang terakhir lalu ku ucapkan selamat tinggal. Aku akan berlayar untuk menaklukkan pulau-pulau dan tanah-tanah. Aku tak akan meletakkan senjata ku selagi masih ada orang-orang kafir di atas muka bumi atau jika ajalku sampai.

Salahuddin Al-Ayubi Sebagai Ulama

Salahuddin memiliki dasar pengetahuan agama yang kokoh. Ia juga mengetahui setiap suku-suku kaum Arab dan adat-adat mereka. Bahkan dia mengetahui sifat-sifat kuda Arab walaupun dia sebenarnya orang Kurdi. Dia sangat gemar mengumpulkan pengetahuan dan kabar dari kawan-kawannya dan utusan-utusannya yang senantiasa berjalan dari satu penjuru ke satu penjuru negerinya. Di samping Qur’an ia juga banyak menghafal syair-syair Arab.

Lane-Poole juga menuliskan bahawa Salahuddin mempunyai pengetahuan yang dalam dan gemar untuk mendalami lagi bidang-bidang akidah, ilmu hadis serta sanad-sanad dan perawi-perawinya, syariah dan usul fiqih dan juga tafsir Qur’an.

Rujukan :
Bahauddin bin Shaddad. 1234M,632H.Al-Nawadir-I-Sultania: Sirat Salahuddin (Bin Nawadir-I-Sultania). Mesir (diterbitkan 1317h):31,32-33, 7,155 Poole S. L. 1914. Saladin. New York: 72, 99

Dipetik :
Biografi Salahuddin Al-Ayyubi oleh Abul Hassan Ali Nadwai Judul Asli : Saviors of Islamic Spirit.

Saturday, March 7, 2009

Demam Berdarah

Bila melihat dua negara tetangga, Malaysia dan Singapura, mungkin warga Indonesia hanya bisa menggigit jari. Karena kedua negara itu sudah berhasil mencanangkan bebas demam berdarah (lihat: "Apa dan Bagaimana Demam Berdarah"). Keberhasilan itu, seperti dikatakan Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Farid Anfasa Moeloek, didapat karena perhatian pemerintah terhadap masalah kesehatan lingkungan. Soal kesehatan lingkungan bahkan dimasukkan ke dalam peraturan, diantaranya berbunyi, “pemilik rumah yang terdapat jentik nyamuk akan dikenakan sanksi”. Apalagi kasus demam berdarah sudah menjadi perhatian internasional dengan jumlah kasusnya di seluruh dunia mencapai 50 juta pertahun. Tapi, di Indonesia tidak begitu mengalami perkembangan positif soal penyakit yang satu ini. Bahkan, hingga Maret 2004, sudah 12 provinsi yang dinyatakan sebagai daerah Kejadian Luar Biasa (KLB).

Lagi-lagi, sistem pengelolaan kesehatan masyarakat yang dimiliki pemerintah Indonesia seakan tidak berjalan. Melulu, jika KLB sudah terjadi, barulah koordinasi antara rumah sakit, Puskesmas dan dinas kesehatan menjadi kambing hitam selain masyarakat sendiri yang dituduh tidak menjaga kesehatan lingkungannya. Lebih parahnya, dengan kondisi KLB pun, inisiatif rumah sakit yang seharusnya menjadi fasilitas sosial, harus menunggu aba-aba pemerintah untuk menerima pasien penyakit ini. Bila tidak, rumah sakit tentunya tetap menerapkan “yang punya uang yang bisa berobat”.

Ironisnya, pemerintah justru menerapkan pengawasan masyarakat lewat juru pemantau jentik “Jumantik” (notulen rapat tim penanggulangan KLB Demam Berdarah Dengue - 9 Maret 2004: http://www.ppmplp.depkes.go.id/images/m4_s1_i304_b.pdf), setelah jatuh ratusan korban jiwa meninggal dunia. Lalu apa yang dilakukan pemerintah selama ini (lihat “Demam Berdarah di Indonesia”)? Bayangkan, Departemen Kesehatan sudah mencatat 12.482 penderita DBD di 21 provinsi, 241 orang diantaranya meninggal dunia, hingga akhir Februari 2004. Bahkan, Provinsi DKI Jakarta –sebagai pusat negara, menempati peringkat tertinggi kasus: 4252 jumlah penderita, 47 orang diantaranya meninggal dunia.

Menurut Rita Kusriatuti dari Bagian Arbovirusasi Departemen Kesehatan, kejadian DBD 2004 dua kali lebih parah dibandingkan tahun sebelumnya. “Penyemprotan (fogging) secara massal bukanlah penyelesaian tepat. Nyamuk bertelur 200-400 butir perhari, disemprot lalu mati, tapi esoknya lahir nyamuk baru,” kata Rita.

Berbagai rumah sakit umum juga mengeluhkan minimnya dana untuk menampung para pasien DBD. Rumah Sakit Umum (RSU) Mataram, Nusa Tenggara Barat misalnya mengaku, anggaran dana Rp. 3 miliar untuk pasien miskin atau Program Kompensasi Pengganti Subsidi-BBM (PKPS-BBM) 2003, sudah habis. Sementara, dana PKPS-BBM 2004 belum turun. Alternatifnya, RSU Mataram menunggu dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2004 Provinsi NTB sebesar Rp. 400 juta. Karena dana itu juga belum turun, sistem rembers -diklaim kemudian hari- pun ditempuh. “Sambil menunggu dana dari pemerintah pusat turun -biasanya bulan Juli-, kita juga menunggu dana dari Pemprov NTB,” kata Wakil Direktur Pelayanan RSU Mataram, dokter Wawang Orijanto. Di NTB, DB menyerang Kota Bima (59 orang), Kabupaten Bima (56 orang), Kota Mataram (46 orang), Kabupaten Lombok Timur (26 orang), Kabupaten Lombok Barat (26 orang) dan Kabupaten Lombok Tengah (3 orang).


Demam Berdarah di Indonesia
Sebenarnya, masyarakat Indonesia sudah tahu tanda-tanda dan cara penularan penyakit DBD, karena DBD masuk ke Indonesia sejak 36 tahun lalu. Pencegahannya pun sederhana saja dan tidak perlu teknologi tinggi seperti pada kasus SARS yang untuk memastikan penyakitnya perlu pemeriksaan laboratorium di Atlanta. Hanya saja, untuk memberantas DBD diperlukan langkah jelas dan sederhana dengan menumbuhkan perubahan sikap dan kesadaran semua pihak dan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Dengan jumlah penduduk besar, seharusnya masyarakat Indonesia bisa jadi kekuatan, tolong menolong dan bergotong royong membersihkan lingkungan. Bayangkan, hanya dengan langkah sederhana: pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang dilakukan dengan kegiatan 3M, rantai penularan aedes aegypti sebagai penyebab DBD dapat diputus, sehingga tidak sampai menyebar luas. Tapi yang terjadi justru kita membuat serangan penyakit itu semakin membabi-buta, tanpa pertahanan dan perlawanan berarti. Berikut kita simak perjalanan satu tahun demam berdarah 2003-2004, sebagai gambarannya:
- Januari 2003: Jumlah penderita DBD menunjukkan kecenderungan meningkat. Dalam dua minggu, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan, Jakarta Pusat, dan Rumah Sakit Pelni Petamburan, Jakarta Barat; jumlah pasien DBD 15 pasien.
- 11 Februari 2003: DBD mulai menyerang tiga warga Bogor. Total korban DBD menjadi 31 orang.
- 18 Desember 2003: 24 orang meninggal dunia akibat DBD di Kabupaten Majalengka
- 29 Desember 2003: Sebagian warga, terutama anak-anak, di hampir seluruh kecamatan di Tulungagung, terserang DBD. Sepanjang 2003, Palu, Sulawesi Tengah mencatat 184 kasus DBD dengan 12 orang di antaranya meninggal dunia.
- 3 Januari 2004: Di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, jumlah korban tewas akibat DBD tiga orang.
- 20 Januari 2004: DBD mulai menyerang sejumlah Kabupaten di Madiun, Jawa Timur dengan jumlah penderita mencapai 22 orang.
- 28 Januari 2004: Jumlah korban DBD di Madiun mencapai 62 orang, sembilan diantaranya meninggal dunia. Padahal, pada 2001 dan 2002 tidak ada kasus kematian akibat DB. Sementara itu, pada 2003 hanya satu penderita DBD yang meninggal dunia.
- 12 Februari 2004: Di antara 290 unit alat fogging (penyemprotan/pengasapan) yang dimiliki Kabupaten Indramayu, hanya enam yang berfungsi. Selama kurun waktu 2003, jumlah kasus DBD yang terjadi di kabupaten Indramayu mencapai 1.120 kasus dengan 34 korban di antaranya dinyatakan meninggal dunia.
- 17 Februari 2004: Pemerintah menganggarkan Rp. 150 miliar untuk menanggulangi DBD di berbagai daerah.
- 18 Februari 2004: Menteri Kesehatan Achmad Sujudi menyatakan kasus DBD di tanah air telah memenuhi kriteria KLB yaitu, tingkat kematian (case fatality rate/CFR) mencapai satu persen dari jumlah kasus atau jumlah penderitanya melonjak hingga dua kali lipat pada kurun waktu yang sama dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
- Pertengahan Februari 2004: Sejak Nopember 2003 - Februari 2004, 140 pasien DBD dirawat di RS Sardjito, Yogyakarta, empat diantaranya meninggal dunia. Penderita DBD di Jakarta Utara meningkat 300 persen: total penderita DBD mencapai 201 orang, empat diantaranya meninggal dunia. (Jakarta Utara, pada 2002 mencatat 24 penderita DBD dengan korban meninggal satu orang, pada 2003 mencatat 59 penderita dengan korban meninggal dua orang).
- Sejak 1 Januari-5 Maret 2004 saja, jumlah kasus DBD yang dilaporkan dan telah ditangani sebanyak 26.015 kasus, dengan kematian mencapai 389 (CFR = 1,53 persen).

Kalau dicermati, disaat perhatian masyarakat tersedot euforia reformasi sehingga KLB DBD kurang diperhatikan, pada 1998 saja, jumlah penderita DBD mencapai 71.776 orang dengan kematian 2.441 jiwa (CFR = 3,4 persen). Sementara itu, jumlah korban penderita DBD 1999 sebanyak 21.134 orang, 2000 (33.443), 2001 (45.904), 2002 (40.377) dan 2003 (50.131). Tentu saja angka penderita dan kematian yang diakibatkan DBD 2004 signifikan dan bermakna. Dari 30 provinsi di Indonesia, 12 provinsi diantaranya ditetapkan sebagai KLB DBD: Nanggroe Aceh Darussalam, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Pada 16 Februari 2004 lah, pemerintah pusat lewat Departemen Kesehatan menyatakan telah terjadi KLB DBD Nasional.

Lalu, apa yang dilakukan pemerintah pusat untuk menanggulangi KLB DBD itu? Beberapa hal yang dilakukan adalah (lihat juga “Tata Laksana DBD Dengue di Indonesia”: http://www.depkes.go.id/downloads/Tata%20Laksana%20DBD.pdf dan “Petunjuk Upaya Perawatan Pasien DBD”: http://www.depkes.go.id/downloads/rawat_dbd.pdf):
1. Penyediaan dan peningkatan sarana pelayanan kesehatan di semua rumah sakit agar mampu memberikan pengobatan kasus-kasus DBD secara cepat dan tepat sehingga angka kematian dapat ditekan serendah-rendahnya. Sejak 20 Februari 2004, pemerintah pusat lewat Menteri Kesehatan mengeluarkan kebijakan untuk membebaskan biaya bagi penderita DBD yang tidak mampu untuk dirawat di kelas III rumah sakit (nomor: 143/Menkes/II/2004).
2. Melakukan pengasapan (fogging) di lokasi-lokasi yang tinggi prevalensinya agar penyebaran penyakit dapat segera dikendalikan lewat pemberantasan vektor nyamuk aedes aegypti dewasa bersama-sama masyarakat dan sektor swasta. Fogging dilakukan pada fokus-fokus penularan.
3. Menggerakkan masyarakat untuk melaksanakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) lewat 3M (menguras bak mandi, menutup tandon air dan mengubur barang bekas yang dapat menampung air hujan). Di DKI Jakarta dan beberapa kota di Jawa Tengah, PSN ini diintensifkan lewat Kegiatan Pemantauan Jentik Berkala (PJB) dengan merekrut Juru Pemantau Jentik (Jumantik).
4. Melaksanakan Pertemuan Nasional Penanggulangan KLB DBD di Jakarta, pada 5 Maret 2004 yang dihadiri oleh Pejabat Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, Kepala Dinas Kesehatan dan Tim Penggerak PKK Kabupaten/Kota yang menghasilkan kesepakatan-kesepakatan sebagai berikut:
1). Seluruh instansi pemerintah terkait di Pusat dan Daerah perlu mengambil langkah cepat dan tepat untuk meredam kepanikan masyarakat dengan:
a. Menginfektifkan pencegahan penyebaran kasus DBD dengan mengutamakan PSN secara serentak dan periodik lewat:
- Pemberdayaan masyarakat dengan mengaktifkan kembali (revitalisasi) Pokjanal DBD di desa, kelurahan, dan kecamatan dengan fokus pada pemberian penyuluhan kesehatan lingkungan dan pemeriksaan jentik berkala.
- Intensifikasi pengamatan (surveilans) penyakit DBD dan vektor yang didukung laboratorium memadai.
- Merekrut warga masyarakat sebagai Jumantik dengan fungsi utama memantau jentik, pemberantasan sarang nyamuk secara periodik dan penyuluhan kesehatan.
- Meningkatkan peran media massa dalam penanggulangan KLB DBD.
b. Mengupayakan Pemanfaatan Sumber Pembiayaan dari Alokasi Dana Penanggulangan Darurat oleh Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota untuk mendukung pelaksanaan program penanggulangan KLB DBD.
c. Menyiapkan sumber daya bantuan dari pemerintah pusat lewat Departemen Kesehatan dalam penanggulangan KLB yang meliputi: bantuan teknis, logistik dan biaya operasional.
d. Melakukan kajian sero-epidemiologis untuk mengetahui penyebaran virus dengue.
e. Mengupayakan Peraturan Daerah (Perda) Provinsi dan Kabupaten/Kota yang mengatur pelaksanaan PSN secara berkala, serentak dan berkesinambungan, guna mengendalikan penyakit DBD agar tidak menjadi KLB atau wabah. Penyusunan Perda ini berdasarkan ketentuan dan peraturan perundangan yang berlaku.
2). Meningkatkan pelayanan tanggap darurat (emergency) dalam penanganan penderita KLB DBD dengan:
a. Menyiagakan sarana pelayanan kesehatan seperti: Puskesmas, rumah sakit, Palang Merah Indonesia dan laboratorium, baik milik pemerintah maupun swasta untuk mendukung kegiatan penanggulangan KLB DBD.
b. Manajemen sarana pelayanan kesehatan wajib memberikan pelayanan cepat dan tepat bagi tersangka penderita KLB DBD guna menekan angka kematian.

Ada yang ingin dicapai pemerintah pusat lewat Departemen Kesehatan dalam upaya penanggulangan KLB DBD kali ini, yaitu:
1. Penanggulangan KLB DBD ditargetkan selesai dalam waktu tiga bulan.
2. Penurunan insidens kasus DBD sebesar 90 persen dari waktu KLB DBD.
3. (CFR) < 1 persen.
4. Angka kasus 2004 kurang dari kasus 2003 (< 35.000).
5. Kasus pada 2005 kurang dari 10.000.

Selain itu, di beberapa kunjungan ke daerah KLB DBD, pemerintah pusat lewat Menteri Kesehatan tampak juga memberikan bantuan dana, seperti bantuan Rp. 500 juta kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang diterima Wakil Gubernur Ali Mufiz untuk menanggulangi KLB DBD di Jawa Tengah. Menteri Kesehatan juga menyerahkan bantuan obat, alat habis pakai, dua alat fogging, brosur dan leaflet DBD. “Bantuan itu untuk membiayai perawatan di rumah sakit bagi keluarga miskin yang menderita DBD, sehingga mereka tidak lagi memikirkan biaya perawatan dan angka kematian akibat DBD dapat ditekan,” kata Achmad Sujudi. Untuk itu, Menteri Kesehatan berharap Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota menanggung-renteng biaya perawatan penderita DBD.

Bersama-sama dengan Palang Merah Indonesia, Menteri Kesehatan juga sepakat untuk menanggulangi serangan DBD 2004.


Apa dan Bagaimana Mengatasi Demam Berdarah?
DBD adalah penyakit akut yang disebabkan infeksi virus yang dibawa oleh nyamuk aedes aegypti dan aedes albopictus betina (lihat: "Siapa Aedes Aegypti Itu?") yang umumnya menyerang pada musim panas dan musim hujan. Virus itu menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan darah, sehingga mengakibatkan perdarahan-perdarahan. Manifestasi klinis dari infeksi virus dengue dapat berupa demam dengue dan DBD dengue.

Virus dengue termasuk famili flaviviridae, yang berukuran kecil sekali (35-45 nm). Virus ini dapat tetap hidup (survive) di alam ini lewat dua mekanisme:
- Mekanisme pertama, tranmisi vertikal dalam tubuh nyamuk. Dimana virus dapat ditularkan oleh nyamuk betina pada telurnya, yang nantinya akan menjadi nyamuk. Virus juga dapat ditularkan dari nyamuk jantan pada nyamuk betina melalui kontak seksual.
- Mekanisme kedua, tranmisi virus dari nyamuk ke dalam tubuh makhluk ~Vertebrata~ dan sebaliknya. Yang dimaksud dengan makhluk vertebrata disini adalah manusia dan kelompok kera tertentu.

Nyamuk sendiri mendapatkan virus ini pada saat menggigit manusia (makhluk vertebrata) yang saat itu darahnya (viraemia) sedang mengandung virus dengue. Virus yang sampai ke dalam lambung nyamuk akan mengalami replikasi (memecah diri atau berkembang biak), kemudian akan migrasi dan akhirnya sampai di kelenjar ludah.

Virus memasuki tubuh manusia lewat gigitan nyamuk yang menembus kulit. Empat hari kemudian virus akan mereplikasi dirinya secara cepat. Apabila jumlahnya sudah cukup, virus akan memasuki sirkulasi darah dan saat itulah manusia yang terinfeksi akan mengalami gejala panas.

Tapi, reaksi tubuh manusia terhadap virus ini dapat berbeda. Perbedaan reaksi ini juga akan memanifestasikan perbedaan penampilan gejala klinis dan perjalanan penyakit. Bentuk reaksi tubuh manusia terhadap keberadaan virus dengue itu adalah:
- Terjadi netralisasi virus, disusul dengan mengendapnya bentuk netralisasi virus pada pembuluh darah kecil di kulit berupa gejala ruam (rash).
- Terjadi gangguan fungsi pembekuan darah sebagai akibat dari penurunan jumlah dan kualitas komponen-komponen beku darah yang menimbulkan manifestasi perdarahan.
- Terjadi kebocoran pada pembuluh darah yang mengakibatkan keluarnya komponen plasma (cairan) darah dari dalam pembuluh darah menuju ke rongga perut berupa gejala ascites dan rongga selaput paru berupa gejala efusi pleura.
Jika tubuh manusia hanya memberi reaksi pertama dan kedua, orang itu akan menderita demam dengue. Sementara, jika ketiga reaksi terjadi, orang itu akan mengalami DBD dengue.

Jika demam dengue terjadi, gejala-gejala yang timbul adalah:
- Demam, yang timbul secara mendadak, tinggi (dapat mencapai 39-40 derajat celcius) dan dapat disertai dengan menggigil. Demam ini hanya berlangsung 5-7 hari. Saat demam berakhir, sering kali dalam bentuk turun mendadak (lysis), disertai dengan keringat banyak dan tubuh tampak loyo. Kadang-kadang, dikenal istilah demam biphasik, yaitu demam yang berlangsung selama beberapa hari, sempat turun ditengahnya menjadi normal, lalu naik lagi dan baru turun lagi saat penderita sembuh.
- Timbulnya gejala panas, akan segera disusul dengan timbulnya keluhan nyeri pada seluruh tubuh. Pada umumnya, yang dikeluhkan adalah nyeri otot, sendi, punggung dan bola mata yang semakin meningkat apabila digerakkan. Adanya gejala nyeri ini, masyarakat awam sering menyebutnya flu tulang. Setelah penderita sembuh, gejala-gejala nyeri pada seluruh tubuh juga akan hilang.
- Ruam, yang dapat timbul pada saat awal panas (berupa flushing: kemerahan pada daerah muka, leher dan dada). Ruam juga dapat timbul pada hari ke-4 sakit, berupa bercak-bercak merah kecil seperti bercak pada penyakit campak. Kadang-kadang ruam yang seperti campak ini hanya timbul pada daerah tangan atau kaki saja sehingga memberi bentuk spesifik seperti kaos tangan atau kaki.
- Pada infeksi virus dengue apalagi pada bentuk klinis DBD dengue selalu disertai dengan tanda perdarahan. Hanya saja tanda perdarahan ini tidak selalu didapat secara spontan oleh penderita. Bahkan pada sebagian besar penderita, tanda perdarahan ini muncul baru setelah dilakukan test tourniquet. Bentuk-bentuk perdarahan spontan yang dapat terjadi pada penderita demam dengue dapat berupa perdarahan kecil-kecil di kulit (petechiae), agak besar di kulit (echimosis), gusi, hidung dan kadang-kadang dapat terjadi perdarahan masif yang dapat berakhir dengan kematian. Pada anak-anak tertentu, jika menderita panas juga disertai dengan perdarahan hidung (epistaksis). Hal itu dikenal sebagai habitual epistaksis, sebagai akibat kelainan sementara dari komponen beku darah yang disebabkan oleh segala bentuk infeksi (tidak hanya oleh virus dengue). Ada juga pada penderita lainnya, jika minum obat disaat panas, akan disusul dengan terjadinya perdarahan hidung.

Pada DBD dengue, secara umum, empat gejala seperti yang terjadi pada demam dengue juga akan terjadi. Bedanya adalah adanya manifestasi gejala klinis sebagai akibat adanya reaksi ketiga tubuh manusia terhadap virus dengue: keluarnya plasma (cairan) darah dari dalam pembuluh darah keluar dan masuk ke dalam rongga perut dan rongga selaput paru. Jika ini tidak segera ditanggulangi, manifestasi gejala perdarahan menjadi sangat masif. Prakteknya, sering kali dokter terpaksa memberikan tranfusi darah dalam jumlah yang tidak terbayangkan. Yang perlu dicermati adalah kapan penderita DBD dengue mulai mengalami keluarnya plasma (cairan) darah dari dalam pembuluh darah. Biasanya, keluarnya plasma darah terjadi pada sakit hari ke-3 sampai ke-6. Gejalanya didahului dengan penurunan panas badan penderita secara mendadak (lysis), diikuti dengan tubuh yang tampak loyo, pada perabaan akan didapatkan ujung-ujung tangan atau kaki dingin dan nadi yang kecil dan cepat. Saat itulah sebenarnya kondisi kritis yang harus dicermati. Karena semakin lemah dan loyo-nya penderita, akan terlambat atau kurang optimal untuk diselamatkan.

Biasanya DBD akan menyerang orang-orang yang tinggal di daerah pinggiran, kumuh dan lembab serta anak-anak berusia di bawah 15 tahun. Untuk mencegah serangan, tentunya adalah dengan membasmi nyamuk aedes yang menjadi media virus, dengan tidak menyediakan tempat perkembangbiakannya di tempat lembab dan berair. Untuk memberantas nyamuk itu, jentik-jentiknya atau sarang-sarangnya harus diberantas (PSN-DBD). Karena tempat berkembang-biaknya ada di rumah-rumah dan tempat-tempat umum, setiap keluarga harus melaksanakan PSN-DBD, secara teratur sekurang-kurangnya seminggu sekali. Selain itu, fogging dan memutuskan mata rantai pembiakan aedes aegypti lewat abatisasi juga harus dilakukan.

Bila seseorang terserang DBD, pertolongan pertama yang bisa dilakukan adalah memberi minum sebanyak-banyaknya dengan air yang sudah dimasak, seperti air susu, teh, air bening, oralit atau air minum lainnya. Sementara itu, si penderita dapat dikompres dengan air dingin atau es dan diberi obat penurun panah seperti parasetamol. Selanjutnya, si penderita harus segera dibawa ke dokter. Sebenarnya, belum ada vaksin yang dapat menyembuhkan DBD secara langsung. Untuk itulah, pengobatan media (lihat boks “Tradisionalpun Bisa Melawan DBD”) dilakukan adalah untuk mengurangi gejala yang ditimbulkan, mengatasi perdarahan, mencegah atau mengatasi keadaan shock atau preshock dengan mengusahakan penderita agar banyak minum, bila perlu diberi cairan lewat infus.


"Tradisionalpun Bisa Melawan DBD"
Cara tradisional juga bisa dilakukan sebagai pertolongan terhadap penderita DBD, seperti diantaranya dengan memberikan:
- Jambu biji atau jambu klutuk secukupnya + 10 gram kunyit + 10 gram temu lawak, dijus, diminum.
- 30 gram daun dewa segar + 30 gram sambiloto segar direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, airnya disaring, diminum hangat-hangat.
- Bubuk kunyit + bubuk temu lawak + bubuk sambiloto masing-masing 5 gram diseduh dengan air mendidih secukupnya + madu secukupnya, diminum hangat-hangat.
- 30 gram kerikan kayu secang direbus dengan 500 cc air hingga tersisa 200 cc, airnya disaring + madu secukupnya, diminum.
- Konsumsi angco atau oco setiap hari, dapat juga mengkonsumsi kie cie dan kiam boi/sun boi.

Sementara itu, agar terhindar dari gigitan nyamuk dapat memanfaatkan: 10 gram temu hitam + 10 gram kunyit + 10 gram temu lawak + 10 gram sambiloto direbus dengan 700 cc air hingga tersisa 300 cc, airnya disaring + madu secukupnya, diminum.

Penderita DBD dapat mengalami gangguan pada trombosit atau butiran darah merahnya menurun yang mengakibatkan pecahnya pembuluh darah dan terjadi pendarahan. Untuk mengatasi itu dapat memanfaatkan: 30 gram sambiloto segar + 30 gram daun dewa segar direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, airnya disaring dan diminum.

Bagi mereka yang terserang DBD akan mengalami penurunan daya tahan tubuh. Untuk mengembalikan daya tahan tubuh secara cepat dan efektif dapat memanfaatkan:
- 30 gram umbi daun dewa (thien chi) dijadikan bubuk, ambil 10 gram bubuk tersebut dan seduh dengan 200 cc air mendidih, diminum hangat-hangat. Lakukan sehari 3 kali.
- 30 gram daun dewa segar direbus dengan 400 cc air hingga tersisa 200 cc, airnya disaring, diminum.
- Konsumsi angco atau oco dan kie cie.

Untuk penderita DBD yang disertai pendarahan, dapat menggunakan:
- 200 gram akar teratai segar dijus, diminum atau dibuat masakan sop atau sesuai selera.
- 60 gram akar alang-alang segar + 10 butir angco direbus dengan 500 cc air hingga tersisa 200 cc, airnya disaring, diminum, angconya dimakan.

Sementara itu, untuk menambah nafsu makan penderita DBD dapat menggunakan:
- 1 – 3 buah kiam boi/sun boi diseduh dengan 200 cc air + madu secukupnya, diminum.
- 15 gram asam jawa segar + 15 gram kencur segar + gula jawa secukupnya direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, airnya disaring, diminum.
Catatan: Proses merebus disarankan untuk menggunakan panci enamel atau periuk tanah.


Siapa Aedes Aegypti itu?
Nyamuk aedes aegypti mempunyai badan kecil, berwarna hitam dengan bintik-bintik putih. Hidup di dalam dan di sekitar rumah, nyamuk ini bersarang dan bertelur di genangan air jernih, bukan di got atau selokan kotor. Bahkan, nyamuk ini sangat menyukai bak mandi, tampayan, vas bunga, tempat minum burung, perangkap semut dan lainnya. Kebiasaan lainnya adalah suka hinggap pada pakaian yang bergantungan di kamar dan menggigit atau menghisap darah pada siang hari.

Dalam hidupnya, nyamuk ini mempunyai perilaku: mencari darah, istirahat dan berkembang-biak. Di saat setelah kawin, nyamuk betina memerlukan darah untuk bertelur. Untuk itulah, nyamuk betina akan menghisap darah manusia setiap 2–3 hari sekali, selama pagi sampai sore hari pada waktu-waktu tertentu seperti pukul 08.00–12.00 dan 15.00–17.00. Untuk mendapatkan cukup darah, nyamuk betina sering menggigigt lebih dari satu orang. Nyamuk betina yang biasanya mencapai umur satu bulan ini mempunyai jarak terbang sekitar seratus meter.

Setelah kenyang menghisap darah, nyamuk betina memerlukan istirahat 2–3 hari untuk mematangkan telur. Tempat istirahat yang disukainya adalah tempat-tempat lembab dan kurang terang, seperti kamar mandi, dapur, WC, baju yang digantung di dalam rumah, kelambu, tirai, tanaman hias di luar rumah.

Nyamuk akan bertelur dan berkembang biak di tempat penampungan air bersih, seperti tempat penampungan air untuk keperluan sehari-hari: bak mandi, WC, tempayan, drum air, bak menara (tower air) yang tidak tertutup, sumur gali. Selain itu, wadah berisi air bersih atau air hujan: tempat minum burung, vas bunga, pot bunga, ban bekas, potongan bambu yang dapat menampung air, kaleng, botol, tempat pembuangan air di kulkas dan barang bekas lainnya yang dapat menampung air walau dengan volume kecil, juga menjadi tempat kesukaannya. Telur akan diletakkan dan menempel pada dinding penampungan air, sedikit di atas permukaan air. Setiap kali bertelur, nyamuk betina dapat mengeluarkan sekitar seratus butir telur dengan ukuran sekitar 0,7 milimeter perbutir. Di tempat kering (tanpa air), telur dapat bertahan sampai enam bulan. Telur akan menetas menjadi jentik setelah sekitar dua hari terendam air. Setelah 6-8 hari, jentik nyamuk akan tumbuh menjadi pupa nyamuk. Pupa nyamuk yang masih dapat aktif bergerak di dalam air tanpa makan, itu akan memunculkan nyamuk aedes aegypti baru setelah 1–2 hari.

Kalau dilihat dari siklusnya, nyamuk ini mempunyai fase menjadi telur, jentik, pupa dan nyamuk dewasa. Telur nyamuk ini tidak berpelampung, sehingga satu per satu akan menempel ke dinding. Jentik, berbentuk sifon dengan satu kumpulan rambut yang saat istirahatnya akan membentuk sudut dengan permukaan air. Pupa yang berbentuk terompet panjang dan ramping, sebagian kecil tubuhnya kontak dengan permukaan air. Nyamuk dewasa dengan panjang 3–4 milimeter, mempuyai bintik hitam dan putih pada badan dan kepala serta ring putih di kakinya.

Sumber : http://www.tempointeraktif.com