Thursday, April 30, 2015

Taubatnya Malik bin Dinar al-Sami

Malik bin Dinar al-Sami adalah putera seorang budak berbangsa Persia dari Sijistan (Kabul) dan menjadi murid Hasan al-Bashri, ia terhitung sebagai ahli Hadits Shahih dan merawikan Hadits dari tokoh-tokoh kepercayaan di masa lampau seperti  Anas bin Malik, al-Ahnaf, Syahr bin Hausyab, Hasan Al-Basri, Ibnu Sirin dan lain-lain. 

Malik bin Dinar adalah seorang kaligrafer al-Qur'an yang terkenal. Ia meninggal sekitar tahun 130 H/748 M.

Mengapa ia dinamakan Malik bin Dinar

Ketika Malik dilahirkan, ayahnya adalah seorang budak tetapi Malik adalah seorang yang merdeka. Orang-orang mengisahkan bahwa pada suatu ketika Malik bin Dinar menumpang sebuah perahu. Setelah berada di tengah lautan, awak-awak perahu meminta: "Bayarlah ongkos perjalananmu!".

"Aku tak mempunyai uang",jawab Malik.
Awak-awak perahu memukulinya hingga ia pingsan. Ketika Malik siuman, mereka meminta lagi: "Bayarlah ongkos perjalananmu!".
"Aku tak mempunyai uang", jawab Malik sekali lagi, dan untuk kedua kalinya mereka memukulinya hingga pingsan.

Ketika Malik siuman kembali maka untuk ketiga kalinya mereka mendesak.
"Bayarlah ongkos perjalananmu!".
"Aku tak mempunyai uang".
"Marilah kita pegang kedua kakinya dan kita lemparkan dia ke laut", pelaut-pelaut tersebut berseru.

Saat itu juga semua ikan di laut mendongakkan kepala mereka ke permukaan air dan masing-masing membawa dua keping dinar emas di mulutnya. Malik menjulurkan tangan, dari mulut seekor ikan diambilnya dua dinar dan uang itu diberikannya kepada awak-awak perahu. Melihat kejadian ini pelaut-pelaut tersebut segera berlutut. Dengan berjalan di atas air, Malik kemudian meninggalkan perahu tersebut. Inilah penyebab mengapa ia dinamakan Malik bin Dinar.

Taubatnya Malik bin Dinar

Menurut riwayat Malik Bin Dinar sebelum bertobat adalah Rajanya maksiat, semua maksiat yang ada di muka bumi ini kalau di tanyakan ke Malik Bin Dinar pasti akan di jawab sudah.

Seorang ahli sufi yang terkenal Malik bin Dinar pada mulanya adalah seorang yang sangat suka melakukan berbagai kejahatan/ kemaksiatan.

Pada suatu ketika ada orang bertanya kepadanya bagaimana ia dapat, mengubah kelakuannya yang buruk itu. Pada mulanya Malik enggan memberitahu , tetapi setelah didesak, beberapa kali, akhirnya diapun bersetuju menceritakan kisah dirinya itu.
Menurutnya, dulu dia adalah seorang satpam/ penjaga kemanan dipasar. Kesukaanya tidak lain ialah suka berfoya-foya dan minum arak sehingga mabuk dan kemaksiatan lainnya. Suatu ketika Malik membeli seorang budak (hamba) untuk dijadikan isterinya yang sah. Kebetulan budak yang baru dibelinya itu sangat cantik, sehinggalah dia begitu tertarik kepadanya.

Malik dan budak itu kemudian dikurniakan seorang anak perempuan yang cantik yang di beri nama Fatimah. Fatimah dididik dengan penuh kasih sayang. Satu sifat aneh yang dimiliki oleh Fatimah ialah suka merampas gelas minuman arak di tangan ayahnya dan kemudian menuangnya ke jubah ayahnya. Perbutan tersebut selalu dilakukan berulang-ulang. Walaupun Malik tidak suka perbuatan Fatimah namun dia tidak pernah memarahinya disebabkan rasa sayang terhadap anaknya itu.

Ketika berumur dua tahun, puteri kesayangan Fatimah telah kembali ke Rahmatullah. Betapa hancurnya hati Malik waktu itu kerana kehilangan mutiara yang tidak ada gantinya. Hidupnya menjadi muram disebabkan kematian puterinya itu dan kemaksiatan yang lebih dahyat dia lakukan lagi.

Pada suatu malam Nisfu Sya`ban, yang kebetulah jatuh pada hari Juma’at, Malik mengisikan malam tersebut dengan meminum arak sebanyak-banyaknya sehinggalah mabuk. Dalam keadaan mabuk itulah dia tertidur dan bermimpi dengan mimpi yang sangat mengerikan.

Dalam mimpinya Malik melihat manusia bersesak-sesak keluar dari kubur masing-masing dan berhimpun di Padang Mahsyar termasuklah dirinya sendiri. Di dalam keadaan sedemikian beliau dikejutkan dengan satu suara raungan yang sangat kuat dan menakutkan. Setelah dilihatnya ke belakang didapatinya ada seekor ular yang sangat besar berwarna hitam kebiru-biruan dengan mulutnya terbuka luas hendak menelannya.

Tidak ada jalan lain bagi Malik untuk mengelakkan diri daripada ditelan ular itu kecuali lari sekuat tenaga. Dia berlari untuk menyelamatkan dirinya namun ular itu terus mengejar dengan ganasnya. Akhirnya dia bertemu dengan seorang yang sangat tua sedang berjalan dengan lemah sekali dan bertatih-tatih. Bajunya bersih dan baunya sangat wangi.

“Assalamualaikum ya Syeikh,” Malik menegur dan menghampiri lelaki tua itu dengan maksud meminta pertolongannya.
“Wa`alaikum salam ya Malik,” jawab orang tua itu.
“Tolonglah saya wahai Syeikh”, pinta Malik.
“Tolong ? Tolong apa ?” Tanya orang tua itu.
“Tolong selamatkan saya dari kejaran ular besar itu, ” kata Malik sambil menunjuk ular besar yang mengejarnya.
“Maafkan aku wahai Malik, aku sudah tua, badanku sangat lemah. Aku tidak berupaya untuk melawan ular besar itu “kata orang tua itu.
“Jadi apa yang perlu saya lakukan ?” Tanya Malik.

“Begini, berlarilah terus sampai ke engkau merasa aman, kata sang Syeikh.
Setelah mendengar nasihat daripada orang tua itu, Malikpun terus berlari sehinggalah dia sampai ke sebuah bukit yang agak tinggi dan akhirnya sampai ke puncaknya. Ketika dia melihat ke bawah alangkah terkejutnya beliau kerana mendapati neraka terbentang luas. Beliau hampir terjatuh ke dalam neraka itu kerana terlalu takut dan terkejut dengan ular besar yang sentiasa mengekorinya itu. Kemudian Malik terdengar satu suara yang sangat kuat menyuruhnya mundur dari situ.

“Wahai Malik, silakan engkau mundur dari sini ! karena engkau bukan termasuk ahlinya,” kata suara itu.

Tenanglah hati Malik setelah mendengar suara itu dan bila dia mundur ke belakang didapatinya ular itu berhenti mengejarnya. Oleh sebab tidak ada jalan lain lagi, Malik terpaksa berputar balik ke belakang sehinggalah dia bertemu kembali dengan orang tua tadi.

“Wahai Syeikh ! Aku benar-benar minta pertolongan engkau untuk menyelamatkan aku dari kejaran ular itu, tapi mengapa engkau enggan ? “Tanya Malik. “Sudah aku katakan, aku ini sudah tua, sangat lemah,” jawab orang tua itu memberi alasan yang sama.
Bagaimanapun orang tua itu menunjukkan ke arah sebuah bukit yang lain lalu menyuruh Malik bin Dinar pergi ke bukit itu kerana di sana terdapat sebuah rumah.

Tanpa buang-buang waktu lagi Malik berlari ke bukit itu. Ular itu masih juga mengejarnya dengan ganas. Setelah sampai di puncak bukit tersebut tampak ada sebuah bangunan yang berbentuk tirus kubah bertingkap. Pada tiap-tiap tingkat itu kelihatan pintu yang teramat indah. Semua pintu itu bertahtakan mutiara yang indah dan zamrud yang berkilau-kilauan. Kemudian dia coba memanjat pintu itu terdengar satu suara aneh, yang menurut fikirannya adalah suara malaikat berseru : “Bukalah pintunya dan angkatlah kain penutupnya. Keluarlah kamu sekalian, barangkali ada di antara kamu yang dapat menolong orang jahat ini”.

Setelah mendengar suara tersebut, tiba-tiba semua pintu terbuka dan sungguh aneh yang keluar dari pintu itu adalah anak-anak semua dengan wajah/muka yang berseri-seri. Mereka memandang kepadaku dengan penuh belas kasihan kerana mereka melihat aku sedang di dalam ketakutan dikejar ular. Tiba-tiba aku melihat anakku yang berusia dua tahun ada bersama-sama kumpulan anak-anak itu. Seketika Fatimah memandangku, dia pun menangis, lalu berlari memelukku. Kemudian Fatimah menunjukkan tangannnya ke arah ular itu dan secara tiba-tiba ular itu pun pergi dari situ. Ular raksasas yang amat sangat menakutkan aku itu kemudiannya lenyap dari pandanganku.


Malik meneruskan ceritanya. ” Aku pun meletakkan puteriku itu dalam pangkuanku dan dia asyik bermain dengan janggutku. Kemudian puteriku itu membaca sepotong ayat al-Qur’an surah al-Hadid (ayat : 16) yang artinya :

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.

“Tatkala mendengar ayat yang dibacakan tiba-tiba aku menangis serta menyesali akan segala dosa-dosa yang lalu. Kemudian aku bertanya kepada puteri kesayanganku itu. “Wahai Fatimah anakku, apakah arti/ maksud dari al-Qur’an itu.?”
Fatimah menjawab : “Sesungguhnya saya faham akan segalanya ayah, bahkan lebih daripada ayah sendiri.”

Kemudian aku terus bertanya lagi : “Apakah maksudnya ular itu wahai anakku?”
“Maka dia mengatakan kepada ku bahawa ular itu adalah perbuatan jahat selama hidupnya yang hampir menjerumuskanku ke dalam api neraka.
“Tetapi siapa pula orang tua itu wahai anakku ? tanya Malik lagi.
“Dia adalah perbuatan baik ayah lakukan, perbuatan baik itu menjadi lemah kerana perbuatan jahat yang telah ayah lakukan. Dia tidak dapat menolong ayah ” jawab puteriku.
Aku bertanya lagi : “Apakah yang kamu lakukan di rumah ini anakku ? “Lalu puteriku menjawab : “Ayahku yang dikasihi ! Kami semua adalah anak-anak Islam. Kami menunggu kamu sekalian sehingga Hari Akhirat. Kemudian kami meminta Allah untuk keselamatan ayah-ayah kami.”

Sampai di sini, Malik terjaga daripada tidurnya. Dia melihat ke kiri dan ke kanan, tidak ada siapa-siapa, ternyata dia baru sadar bahwa dia telah bermimpi. Dari mimpinya itulah dia terus sadar bahwa itu merupakan satu peringatan baginya. Malik merasakan sudah sampai masanya dia insaf dan menghentikan semua amalan buruknya dan bertaubat kepada Allah. Maka akhirnya Malik bin Dinar menjadi seorang ahli sufi yang terkenal di bawah bimbingan hasan Al Basri.

Itulah kisah taubatnya Malik bin Dinar Rohimahullah yang beliau kemudian menjadi salah seorang imam generasi tabi'in, dan termasuk ulama Basrah. Dia dikenal selalu menangis sepanjang malam dan berkata: "Ya Ilahi, hanya Engkaulah satu-satunya Dzat Yang Mengetahui penghuni sorga dan penghuni neraka, maka yang manakah aku di antara keduanya? Ya Allah, jadikanlah aku termasuk penghuni sorga dan jangan jadikan aku termasuk penghuni neraka."

Malik bin Dinar Rohimahullah bertaubat dan dia dikenal pada setiap harinya selalu berdiri di pintu masjid berseru: "Wahai para hamba yang bermaksiat, kembalilah kepada Penolong-mu! Wahai orang-orang yang lalai, kembalilah kepada Penolong-mu! Wahai orang yang melarikan diri (dari ketaatan), kembalilah kepada Penolong-mu! Penolong-mu senantiasa menyeru memanggilmu di malam dan siang hari.


Dia berfirman kepadamu: "Barangsiapa mendekatkan dirinya kepada-Ku satu jengkal, maka Aku akan mendekatkan diri-Ku kepadanya satu hasta. Jika dia mendekatkan dirinya kepada-Ku satu hasta, maka Aku akan mendekatkan diri-Ku kepadanya satu depa. Siapa yang mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku akan mendatanginya dengan berlari kecil."


Aku memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar memberikan rizki taubat kepada kita. Tidak ada sesembahan yang hak selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim.


Malik bin Dinar Rohimahullah wafat pada tahun 130 H. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala merahmatinya dengan rahmat-Nya yang luas. 

No comments:

Post a Comment